Ilustrasi pelamar kerja (Istimewa)
GORONTALO - Pengangguran dan minimnya lapangan pekerjaan masih menjadi masalah utama dalam proses pembangunan ekonomi dan sosial Indonesia.
Padahal, setiap tahun angkatan kerja terus bertambah jumlahnya.
Mereka yang berstatus lulusan muda dan pekerja sektor informal jelas menjadi kelompok rentan ketimpangan ini.
Baca juga: Temuan PPATK: Banyak Pemerima Bansos Ketahuan Nyasar ke Meja Judi Online
Data dari Badan Pusat Statistik (BPS) mengungkapkan bahwa ketidakseimbangan antara jumlah pencari kerja dan lowongan kerja masih berlangsung.
Walaupun jumlah lowongan kerja mengalami peningkatan, pertumbuhannya tidak mampu menutupi lonjakan jumlah pencari kerja.
Pada tahun 2024, tercatat ada sekitar 909 ribu pencari kerja terdaftar, sedangkan jumlah lowongan kerja hanya mencapai 630 ribu.
Ada selisih sekitar 279 ribu orang yang belum terserap oleh pasar tenaga kerja.
Baca juga: Gorontalo Catat Penurunan Stunting di Tahun 2024, Ini Kuncinya
Pemerintah telah menjalankan berbagai inisiatif penciptaan lapangan kerja, tapi perubahan di sektor industri dan percepatan digitalisasi turut mengubah struktur permintaan tenaga kerja.
Banyak jenis pekerjaan lama tergantikan oleh otomatisasi dan teknologi baru, sedangkan kebutuhan akan keterampilan digital dan adaptif belum sepenuhnya tersedia di kalangan pencari kerja.
Kondisi ini memperkuat persepsi pesimistis masyarakat terhadap pasar kerja.
Baca juga: Kasus Kekerasan Perempuan dan Anak di Gorontalo Masih Tinggi, Ini Catatan dan Upaya Penanganannya
Dalam Survei Konsumen edisi Juni 2025 yang dilakukan Bank Indonesia (BI), sentimen masyarakat terhadap ketersediaan lapangan kerja menunjukkan penurunan.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Goodstats, BPS