GORONTALO — Ancaman bencana kebakaran menjadi salah satu tantangan krusial yang terus diwaspadai di wilayah tropis, terutama saat alam memasuki fase cuaca kering dan minim curah hujan.
Di Kabupaten Gorontalo, lonjakan suhu udara yang ekstrem selama puncak musim kemarau berbanding lurus dengan meningkatnya risiko amukan si jago merah.
Menanggapi situasi rentan ini, Pemerintah Kabupaten Gorontalo melalui UPTD Pemadam Kebakaran (Damkar) Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) secara intensif bergerak merangkul masyarakat untuk memperketat deteksi dini terhadap segala potensi pemicu kebakaran di lingkungan sekitar.
Baca juga: Seluk Beluk Seni Bela diri Khas Gorontalo Langga dan Legenda Ju Panggola
Dominasi Korsleting Listrik dan Titik Rawan di Limboto
Langkah kewaspadaan ini bukanlah tanpa alasan yang mendasar. Berdasarkan data rekapitulasi hingga Juli 2026, UPTD Damkar BPBD Kabupaten Gorontalo mencatat telah terjadi sebanyak 34 peristiwa kebakaran di berbagai titik wilayah.
Dari peta sebaran kerawanan, Kecamatan Limboto muncul sebagai wilayah yang paling sering didera insiden tersebut.
Adapun dari total puluhan kasus yang terjadi, sekitar 20 insiden di antaranya menimpa bangunan rumah tinggal, mayoritas kegagalan sistem keamanan tersebut dipicu oleh masalah korsleting atau arus pendek listrik.
Baca juga: Sekda Kabgor: Festival Budaya Jaton Layak Masuk Kalender Event Provinsi
Kepala UPTD Damkar BPBD Kabupaten Gorontalo, Farid Taha, membeberkan bahwa kelalaian terhadap kelayakan instalasi listrik masih menempati urutan teratas sebagai penyebab utama petaka tersebut.
Pola penataan kabel yang tidak memenuhi standar teknis serta kebiasaan menumpuk sambungan secara berlebihan pada bangunan hunian maupun tempat usaha menjadi bom waktu yang siap memercikkan api kapan saja.
”Instalasi listrik perlu diperiksa secara berkala. Jika usia instalasi sudah mencapai 10 hingga 15 tahun, sebaiknya dilakukan renovasi atau penggantian agar tetap aman digunakan. Langkah sederhana ini dapat mencegah terjadinya kebakaran yang merugikan,” ujarnya.
Baca juga: Resep Nasi Kuning Khas Gorontalo yang Mudah dan Enak
Mitigasi Risiko di Tengah Cuaca Ekstrem Musim Kemarau
Selain kerentanan dari dalam ruang domestik, karakteristik alam yang gersang di tengah musim kemarau panjang turut menyumbang andil besar dalam memperluas skala ancaman.
Keberadaan material kering di ruang terbuka yang terpapar terik matahari esktrem membuat vegetasi maupun fasilitas publik menjadi sangat mudah tersulut.
Guna memutus rantai risiko makro ini, BPBD Kabupaten Gorontalo mengeluarkan panduan ketat bagi warga agar tidak melakukan pembakaran sampah secara sembarangan, menghindari pembersihan lahan dengan metode bakar, tidak membuang sisa puntung rokok di area semak belukar yang mengering, serta menjaga rutinitas pengecekan sistem kelistrikan mandiri.
Strategi Pengamanan 24 Jam dan Penyelamatan Medan Sulit
Di balik upaya edukasi hilir, kesiapsiagaan di lini garda terdepan terus diperkuat secara berkala demi menjamin keselamatan warga.
UPTD Damkar BPBD Kabupaten Gorontalo mengoperasikan sistem pelayanan non-stop selama 24 jam penuh yang digerakkan oleh tiga regu operasional andalan, yakni Regu Yuda, Regu Rama, dan Regu Jaya.
Setiap tim berkekuatan 10 personel terlatih yang siap dimobilisasi secara kilat begitu sinyal darurat berbunyi.
Respons cepat tim pemadam terbukti lewat keberhasilan penanganan di lapangan. Dari total 34 kejadian yang masuk dalam manifes, sebanyak 33 insiden berhasil dikendalikan secara taktis sebelum berdampak lebih fatal.
Sementara itu, satu kasus bangunan gagal diselamatkan murni akibat faktor keterlambatan laporan, di mana petugas baru menerima informasi saat kobaran api sudah terlanjur melumat habis seluruh struktur bangunan.
Tantangan geografis berupa daerah perbukitan tinggi atau medan terjal yang tidak mungkin ditembus oleh truk armada pemadam juga telah diantisipasi dengan matang.
Petugas menerapkan metode pemadaman manual yang dinamis, memanfaatkan mesin pompa portabel alkon beserta perangkat pendukung ringan untuk mengisolasi pergerakan lidah api di area-area terisolasi.
Pada akhirnya, kesuksesan mitigasi bencana ini bertumpu pada kolaborasi sinergis antara petugas dan kesadaran kolektif warga.
Sifat preventif dari masyarakat merupakan fondasi paling kokoh dalam meminimalkan statistik bencana kebakaran di Bumi Serambi Madinah.
”Kesadaran masyarakat menjadi faktor yang sangat penting. Mari bersama-sama menjaga lingkungan dengan tidak melakukan aktivitas yang berpotensi memicu kebakaran. Kewaspadaan dan kepedulian kita hari ini dapat mencegah kerugian yang lebih besar di kemudian hari,” pungkasnya.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Otanaha.id