GORONTALO — Pemerintah Provinsi Gorontalo tengah menyiapkan buah tangan unik berupa 5.000 unit polopalo untuk peserta PENAS XVII Petani dan Nelayan 2026.
Proyek massal ini dikerjakan secara gotong royong oleh aparatur sipil negara di seluruh OPD dengan komando dari Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Dikbud) Provinsi Gorontalo.
Beberapa hari menjelang upacara pembukaan ajang nasional tersebut, manifaktur alat musik tradisional berbahan bambu ini dilaporkan telah menyentuh angka 4.137 unit 82,74 persen.
Baca juga: Polda Gorontalo Siagakan 786 Personel dan Garansi Ketertiban Unjuk Rasa Selama PENAS XVII
Pihak Dikbud Gorontalo menaruh rasa optimisme yang tinggi bahwa sisa target suvenir dapat terselesaikan tepat waktu sebelum acara dimulai.
“Polo-palo yang sudah masuk di Dikbud ada 2.391. Dilaporkan sudah selesai di OPD ada 1.746 artinya sudah 4.137 unit selesai," kata Kadis Dikbud Gorontalo, Sudarman Samad.
"Sisanya ada yang masih berupa potongan bambu, pembentukan, ada juga sudah tahap pemasangan karet dan uji bunyi,” sambungnya.
Baca juga: Gubernur Gorontalo Pastikan Kesiapan Venue PENAS XVII Gorontalo Capai 95 Persen
Kolaborasi Bersama Puluhan Pengrajin Lokal dari Tiga Kecamatan
Aksi pelestarian budaya ini tidak hanya mengandalkan peran internal pegawai pemerintahan daerah semata.
Pihak panitia juga merangkul sedikitnya 27 pengrajin lokal yang terbagi di wilayah Kecamatan Bonepantai, Suwawa Selatan, dan Tapa.
Hal ini dilakukan guna menjaga kualitas otentik produk polopalo yang diproduksi.
Baca juga: Sinergi Amankan PENAS XVII 2026, Wabup Gorontalo Ikuti Apel Pasukan Lintas Sektor
Melalui pembagian cenderamata khas ini, Pemprov Gorontalo membawa misi besar untuk membumikan kekayaan warisan leluhur mereka kepada ribuan peserta.
Kehadiran polopalo diharapkan mampu meninggalkan kesan mendalam sekaligus menjadi identitas pengingat keindahan bumi Serambi Madinah.
Mengenal Polopalo, Alat Musik Idiofon Pengisi Waktu Senggang Petani
Secara organologi, polopalo termasuk dalam klasifikasi instrumen idiofon yang memiliki bentuk fisik menyerupai garpu tala raksasa.
Mekanisme bunyinya dihasilkan dari ketukan bilah bambu ke area lutut pemain, dengan lubang di bagian bawah sebagai ruang resonansi pengatur tinggi rendahnya nada.
Dahulu kala, alat musik ini menjadi sarana hiburan personal bagi para petani saat menjaga petak sawah atau kala menggembala hewan ternak di padang rumput.
Kini, polopalo telah bermutasi menjadi sajian pertunjukan ansambel kelompok yang megah dan resmi diakui sebagai Warisan Budaya Tak Benda oleh pemerintah pusat sejak tahun 2015.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Pemprov Gorontalo