GORONTALO – Menanggapi keresahan warga di media sosial, Wakil Gubernur Gorontalo, Idah Syahidah, melakukan inspeksi mendadak (sidak) ke beberapa Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG), Kamis, 12 Februari 2026.
Langkah ini diambil guna memastikan program Makan Bergizi Gratis (MBG) benar-benar berjalan sesuai Standar Operasional Prosedur (SOP).
Sidak dimulai sejak pukul 05.00 WITA dengan menyisir SPPG Talulobotu di Bone Bolango, kemudian berlanjut ke SPPG Wumialo dan SPPG Heledulaa Selatan di Kota Gorontalo.
Baca juga: Wagub Gorontalo Soroti Kualitas Menu MBG, Menunya Telur Orak-Arik
Bersama Tim Satgas MBG, Idah memantau langsung proses pengolahan hingga pengemasan makanan untuk para pelajar.
Temuan Porsi "Pukul Rata" dan Risiko Sayur Basi
Dalam tinjauan tersebut, Idah menemukan ketidaksesuaian pembagian porsi antarjenjang pendidikan.
Ia menyoroti porsi lauk dan sayur yang cenderung disamaratakan, padahal kebutuhan gizi setiap usia berbeda.
Baca juga: 5 Kegiatan Anti Lesu Agar Tetap Produktif Selama Ramadan
“Berdasarkan SOP, porsi untuk anak TK dan SD harus berbeda dengan SMP dan SMA, baik dari jumlah nasi, protein hewani, maupun sayur. Dari hasil sidak, kami temukan porsinya diratakan," kata Idah.
"Perbedaannya hanya pada nasi, sementara lauk dan sayur sama untuk semua jenjang. Ini tentu harus segera diperbaiki,” tegas Idah.
Selain masalah porsi, manajemen waktu distribusi juga menjadi catatan merah.
Baca juga: Prospek Cuaca BMKG 13–16 Februari: Gorontalo dan Sejumlah Wilayah Siaga Hujan Lebat
Idah menemukan adanya ketidaksinkronan jadwal masak yang mengakibatkan penurunan kualitas makanan bagi siswa SMP dan SMA.
“Ada keluhan sayur sudah basi. Itu karena disiapkan pada jam yang sama dengan TK dan SD, padahal waktu distribusi untuk SMP dan SMA berbeda. Saya melihat keluhan ini di media sosial jadi harus dicek," ujarny.
Kalau sudah viral, berarti ada yang perlu dibenahi. Tolong SPPG segera melakukan perbaikan,” tambahnya.
Soroti Keamanan Wadah Plastik
Tak hanya soal rasa dan porsi, faktor keamanan pangan pun tak luput dari pengawasan.
Idah mengkritik penggunaan wadah plastik biasa saat proses pemorsian makanan panas yang berisiko memicu kontaminasi zat kimia berbahaya.
Ia memperingatkan bahwa kelalaian sekecil apa pun dalam teknis pelaksanaan dapat berdampak buruk pada kesehatan anak-anak dan kredibilitas program nasional ini.
“Program ini sangat baik untuk peningkatan gizi anak-anak. Namun jika standar pelaksanaannya tidak dijaga, hal itu bisa mencoreng program dan menurunkan kepercayaan publik,” tambahnya.
Ancaman Diskualifikasi bagi SPPG Bandel
Sebagai Ketua Satgas MBG, Idah Syahidah memberikan peringatan keras kepada seluruh pengelola SPPG untuk segera melakukan evaluasi total.
Pemerintah tidak segan-segan mengambil tindakan tegas jika perbaikan tidak segera dilakukan.
Idah mengingatkan, apabila masih ditemukan pelanggaran yang tidak sesuai dengan SOP, SPPG yang bersangkutan akan dinilai gagal dalam pelaksanaan program dan berpotensi untuk dihentikan operasionalnya.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Pemprov Gorontalo