Kamis, 18 DESEMBER 2025 • 10:21 WIB

Nasib Karawo: Krisis Regenerasi dan Upah Murah

Author

Salah satu pengrajin karawo di Gorontalo (indozone gorontalo)

GORONTALO – Masa depan kain karawo, produk kerajinan kebanggaan Provinsi Gorontalo, kini tengah menghadapi tantangan serius dari sisi keberlanjutan sumber daya manusia dan keadilan ekonomi

Hal ini menjadi sorotan utama dalam Rapat Kerja Daerah (Rakerda) Dekranasda Provinsi Gorontalo Tahun 2025 yang digelar, Rabu, 17 Desember 2025.

Ketua Dekranasda Provinsi Gorontalo, Nani Ismail Mokodongan, mengungkapkan kekhawatirannya terhadap dua masalah krusial yang saling berkaitan.

Baca juga: Waspada 'Red Flag' di Kantor: 5 Ciri Atasan Toxic yang Bisa Menghambat Karier Anda

Pertama, usia perajin yang menua, kedua, ketimpangan harga jual yang merugikan para pembuatnya.

Krisis Regenerasi: Siapa Penerus Karawo?

Meskipun peminat produk karawo terus melonjak hingga ke pasar internasional, tenaga kerja di balik keindahan kain ini justru menyusut. 

Nani menemukan fakta bahwa mayoritas perajin saat ini adalah kaum ibu yang telah menginjak usia senja.

Baca juga: Mahar Buku di Tengah Deru Peluru: Andil Soekarno Tuntaskan Janji Suci Bung Hatta

“Rata-rata perajin karawo usianya sudah di atas 50 tahun. Kalau tidak kita siapkan regenerasi dari sekarang, siapa yang akan melanjutkan karawo ke depan?” ujar Nani.

Tanpa adanya minat dari generasi muda untuk mempelajari teknik kerajinan tangan ini, dikhawatirkan identitas budaya Gorontalo ini akan perlahan pudar seiring berjalannya waktu.

Ketimpangan Harga: Kerja Keras yang Dibayar Murah

Masalah kedua yang tak kalah pelik adalah masalah upah. Pembuatan karawo yang memakan waktu mingguan hingga bulanan dengan tingkat ketelitian manual yang sangat tinggi ternyata tidak berbanding lurus dengan pendapatan yang diterima perajin di desa.

Baca juga: Asah, Asih, Asuh: Formula Rahasia Mengasuh Anak Tanpa Perlu Clueless

Nani merasa prihatin melihat selisih harga yang sangat jauh antara upah buruh perajin dengan harga jual final di galeri atau kota. 

“Karawo ini dikerjakan satu sampai dua minggu, bahkan sebulan, tapi ada yang dibayar sangat murah. Ini yang membuat saya sangat prihatin, karena nilai jualnya di kota bisa berlipat-lipat,” tegasnya.

Sinergi untuk Kesejahteraan Perajin

Guna mengatasi benang kusut pemasaran dan pembinaan ini, Rakerda Dekranasda 2025 difokuskan untuk membangun satu visi antara pengurus provinsi dan kabupaten/kota. 

Tujuannya adalah menciptakan sistem pemasaran yang lebih adil dan berpihak pada perajin.

“Rakerda ini adalah menyelaraskan dan mensinergikan program antara dekranasda Provinsi dan kabupaten-kabupaten dalam melakukan pembinaan kepada pengrajin agar menghasilkan produk yang berdaya saing tinggi,” sambung Nani.

Melalui sinergi ini, diharapkan lahir program-program konkret yang tidak hanya melestarikan karawo sebagai warisan budaya, tetapi juga menjamin kesejahteraan ekonomi bagi mereka yang mengerjakannya dengan penuh dedikasi.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Pemprov Gorontalo

Author
TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU