GORONTALO – Rektor Universitas Muhammadiyah Gorontalo (UMGO), Abdul Kadim Masaong mengibaratkan Sitti Magfirah Makmur seperti semut, sedangkan Muhammadiyah adalah gajah.
Pernyataan itu dilontarkan Kadim dalam konferensi pers pada Selasa, 21 Oktober 2025 kemarin.
Kadim menegaskan bahwa UMGO berdiri sebagai amal usaha Persyarikatan Muhammadiyah yang menjalankan misi dakwah di bidang pendidikan.
Baca juga: Ultimatum Rektor UMGO: Dosen hingga Mahasiswa yang Dukung Sitti Magfirah Bakal Kena Sanksi
Karena itu, ia menolak tegas anggapan bahwa program pendidikan berasrama di UMGO sarat tekanan atau kekerasan.
“Dalam 113 tahun sejarahnya, Muhammadiyah tidak pernah melakukan tindakan penindasan,” ujar Abdul Kadim.
Ia menegaskan, program berasrama justru menjadi salah satu bentuk pembinaan karakter mahasiswa.
Baca juga: Kuasa Hukum Kuliti SK Pemberhentian Sementara Sitti Magfirah dari UMGO: Ini Sewenang-wenang
Fakta bahwa jumlah mahasiswa baru UMGO terus meningkat menjadi bukti bahwa pendekatan tersebut diterima masyarakat.
"Tahun ini mahasiswa baru kami mencapai 1.070 orang. Itu menandakan kepercayaan masyarakat terhadap program berasrama,” jelasnya.
Abdul Kadim kemudian menyinggung pernyataan Sitti Magfirah yang menuding adanya ketidakadilan di kampus.
Baca juga: Gandeng Kuasa Hukum, Sitti Magfirah Makmur Melawan Usai Dipecat UMGO
Ia menyebut, tindakan menyerang rektor dan institusi kampus melalui media sosial sama saja menyerang Muhammadiyah sebagai pendiri UMGO.
“Sangat naif rasanya seseorang bernama Magfirah Makmur [ibarat semut] mendeklarasikan diri sebagai pembela kebenaran dan keadilan di dalam organisasi besar Muhammadiyah [barat gajah] yang sudah 113 tahun menegakkan amar makruf nahi mungkar," tegasnya.
"Nampaknya Ibu Magfirah salah memilih lawan dan tempat untuk menyatakan dirinya pejuang kebenaran,” lanjutnya.
Abdul Kadim juga menegaskan, kritik yang dilontarkan Magfirah muncul setelah keputusan pemberhentian sementaranya selama satu semester (ganjil) tahun akademik 2025–2026.
“Bagi Ibu Magfirah, lima hari sudah cukup untuk memproklamirkan diri sebagai pejuang kebenaran. Sedangkan bagi saya, lima hari itu cukup untuk mengumpulkan seluruh pernyataan dan histori perilaku beliau di UMGO,” tutupnya.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Liputan