GORONTALO - Seorang warga Kabupaten Gorontalo bernama Agus Hilimi menjadi korban perdagangan manusia dengan modus pekerjaan di luar negeri.
Ia mengaku dipaksa bekerja sebagai scammer di Kamboja setelah sebelumnya dijanjikan pekerjaan sebagai admin perusahaan di Thailand dengan gaji tinggi.
Kasus ini bermula saat Agus diajak temannya bernama Ebi, warga Telaga, Kabupaten Gorontalo. Ebi sudah lebih dulu bekerja di Kamboja selama enam bulan dan mengaku baik-baik saja dengan gaji tinggi, sehingga membuat Agus tergiur.
Baca juga: Awal Mula Warga Gorontalo Jadi Scammer di Kamboja, Tertipu Teman Sendiri
Awalnya, Agus diberitahu akan berangkat ke Thailand. Namun ia malah dibawa ke Kamboja. Setelah tiba di Kamboja, barulah ia mengabari keluarga dua hari kemudian.
“Dia juga bilang kalau tidak aktif berarti dia ketahuan melapor,” kata Sasmita Hilimi, saudara Agus.
Proses keberangkatan berlangsung cepat. Selama tiga hari di Jakarta Agus mengurus paspor dengan alasan liburan ke Malaysia. Dari Malaysia, ia langsung diterbangkan ke Kamboja.
Baca juga: Polda Gorontalo Minta Keluarga Korban Dugaan Persetubuhan Anggota Polisi Bersabar
Setibanya di Kamboja, Agus mulai merasakan kejanggalan. Ia dan pekerja lainnya diminta menipu orang melalui media sosial.
Mereka punya target tertentu, jika gagal, ada ancaman denda dan penyiksaan.
"Kalau bertahan, saya kena denda 100 dollar. Tiga hari harus dapat dua WhatsApp. Caranya cari member di Facebook, ajak chatting sampai mereka masuk aplikasi,” ungkap Agus.
Baca juga: Warga Gorontalo Kena Tipu Lowongan Kerja, Kini Dipaksa Jadi Scammer di Kamboja
Jam kerja sangat panjang, dari pukul 10 pagi hingga 11 malam. Jika target tidak tercapai, mereka dipaksa lembur.
Makan hanya sekali sehari, perusahaan yang menanggung, sementara tempat tinggal disediakan berupa mess berisi dua orang per kamar.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Liputan