Selasa, 30 JUNI 2026 • 19:45 WIB

Sesakit-sakitnya Jerman-Belanda di Piala Dunia 2026, Ternyata Lebih Sakit Italia

Author

Pemain Jerman meratapi kekalahan melawan Paraguay di babak 32 besar Piala Dunia 2026 lewat adu penalti (FIFA)

GORONTALO — Babak 32 besar Piala Dunia 2026 baru saja menyajikan drama paling ironi bagi dua raksasa sepak bola Eropa. 

Dalam satu hari yang sama, Jerman dan Belanda gugur lewat cara yang identik.

Jerman gugur setelah kalah adu penalti lawan Paraguay usai bermain imbang 1-1 selama 120 menit, begitu pun dengan Belanda saar bersua Maroko.

Baca juga: Denyut Ekonomi Malam Kota Gorontalo Meledak, Konsep Street UMKM Tembus Miliaran Rupiah

Tangisan skuad Der Panzer dan De Oranje langsung mendominasi tajuk utama media-media olahraga internasional. 

Kehancuran mental yang dialami Kai Havertz cs maupun anak asuh Ronald Koeman di tanah Amerika Serikat dicap sebagai salah satu ironi terbesar turnamen edisi kali ini.

Namun, melihat peta persaingan dari sudut pandang yang lebih luas, semua ratapan itu sebenarnya belum ada apa-apanya.

Baca juga: Investasi Hilirisasi Nilam Masuk Gorontalo, Siap Borong Hasil Tani dan Serap Lapangan Kerja

Sesakit-sakitnya takdir yang harus diterima Jerman dan Belanda yang pulang lebih cepat, nasib Italia jauh lebih menyedihkan.

Pulang Cepat Masih Jauh Lebih Terhormat

Satu hal mendasar yang membuat Jerman dan Belanda tidak perlu menangis terlalu lama adalah fakta bahwa mereka setidaknya masih sempat merasakan megahnya atmosfer, ketegangan, dan gemuruh stadion di Piala Dunia 2026.

Jerman sempat tampil galak di fase grup dengan memamerkan membantai Curacao 7-1 di fase grup. 

Baca juga: Duh, Jerman-Belanda Satu Nasib: Gugur di Hari yang Sama, di Fase yang Sama, Lewat Drama yang Sama

Belanda pun demikian, mereka masih bisa menghibur pendukungnya lewat gol keras Cody Gakpo ke gawang Maroko sebelum akhirnya takdir berkata lain di babak tos-tosan.

Mereka gugur di medan perang sebagai petarung yang kalah terhormat akibat faktor keberuntungan di titik putih. 

Mereka merasakan keringat, ketatnya persaingan, dan drama peninjauan VAR yang menguras emosi. 

Mereka ada di sana, menjadi bagian dari pesta sepak bola terbesar di jagat raya.

Italia? Menonton Pesta dari Layar Kaca

Sementara itu, di mana Italia saat Jerman dan Belanda sedang bertaruh nyawa di Foxborough dan Boston? 

Skuad Gli Azzurri hanya bisa duduk manis di rumah mereka masing-masing, menjadi penonton layar kaca, dan meratapi nasib buruk yang sudah mengunci mereka sejak babak kualifikasi.

Rasa sakit yang dialami Italia berada di level yang sepenuhnya berbeda karena bersifat absen menahun.

Ketika negara-negara lain berbenah dan merayakan kelolosan ke putaran final, pemegang empat gelar juara dunia ini justru harus kembali menelan pil pahit karena gagal menembus putaran final Piala Dunia untuk ketiga kalinya secara beruntun.

Kehilangan panggung sebelum turnamen bahkan dimulai jauh lebih menyiksa daripada tersingkir di fase gugur. 

Italia tidak memiliki kesempatan untuk membuat kesalahan penalti seperti Kai Havertz, tidak memiliki peluang untuk golnya dianulir VAR seperti Jonathan Tah, dan tidak bisa merasakan ketegangan seperti yang dirasakan Crysencio Summerville.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Berbagai Sumber

Author
TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU