GORONTALO — Babak 32 besar Piala Dunia 2026 baru saja menyajikan drama paling ironi bagi dua raksasa sepak bola Eropa.
Dalam satu hari yang sama, Jerman dan Belanda gugur lewat cara yang identik.
Jerman gugur setelah kalah adu penalti lawan Paraguay usai bermain imbang 1-1 selama 120 menit, begitu pun dengan Belanda saar bersua Maroko.
Baca juga: Denyut Ekonomi Malam Kota Gorontalo Meledak, Konsep Street UMKM Tembus Miliaran Rupiah
Tangisan skuad Der Panzer dan De Oranje langsung mendominasi tajuk utama media-media olahraga internasional.
Kehancuran mental yang dialami Kai Havertz cs maupun anak asuh Ronald Koeman di tanah Amerika Serikat dicap sebagai salah satu ironi terbesar turnamen edisi kali ini.
Namun, melihat peta persaingan dari sudut pandang yang lebih luas, semua ratapan itu sebenarnya belum ada apa-apanya.
Baca juga: Investasi Hilirisasi Nilam Masuk Gorontalo, Siap Borong Hasil Tani dan Serap Lapangan Kerja
Sesakit-sakitnya takdir yang harus diterima Jerman dan Belanda yang pulang lebih cepat, nasib Italia jauh lebih menyedihkan.
Satu hal mendasar yang membuat Jerman dan Belanda tidak perlu menangis terlalu lama adalah fakta bahwa mereka setidaknya masih sempat merasakan megahnya atmosfer, ketegangan, dan gemuruh stadion di Piala Dunia 2026.
Jerman sempat tampil galak di fase grup dengan memamerkan membantai Curacao 7-1 di fase grup.
Baca juga: Duh, Jerman-Belanda Satu Nasib: Gugur di Hari yang Sama, di Fase yang Sama, Lewat Drama yang Sama
Belanda pun demikian, mereka masih bisa menghibur pendukungnya lewat gol keras Cody Gakpo ke gawang Maroko sebelum akhirnya takdir berkata lain di babak tos-tosan.
Mereka gugur di medan perang sebagai petarung yang kalah terhormat akibat faktor keberuntungan di titik putih.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Berbagai Sumber