GORONTALO — Setiap tanggal 23 Juli, masyarakat Indonesia diajak untuk berpartisipasi dalam sebuah gerakan sosial yang unik bernama Hari Tanpa TV.
Aksi mati layar kaca ini dirancang bukan tanpa alasan, melainkan sebagai sebuah momentum refleksi penting bagi ketahanan keluarga.
Gerakan ini sejatinya menjadi stimulus untuk menumbuhkan sikap kritis pada orang tua dan anak dalam menyaring setiap konten penyiaran.
Baca juga: Deretan Hari Penting Nasional dan Internasional Bulan Juli yang Wajib Dicatat
Melalui kampanye ini, Yayasan Pengembangan Media Anak mengajak seluruh lapisan masyarakat untuk serentak mematikan perangkat televisi mereka selama satu hari penuh.
Langkah kecil tersebut dipercaya mampu memutus rantai ketergantungan kronis masyarakat, khususnya anak-anak, terhadap stimulasi audio visual dari televisi.
Lebih dari sekadar mematikan tombol daya, momen ini menjadi ruang edukasi untuk menyusun regulasi batasan jam menonton yang ideal di dalam rumah.
Baca juga: Invasi Narkoba Varian Baru: BPOM Perketat Pengawasan Likuid Vape dan Obat Keras
Secara historis, lahirnya gerakan ini dipicu oleh kegelisahan terhadap maraknya program siaran yang dinilai kurang mendidik bagi tumbuh kembang remaja.
Anak-anak sebagai kelompok usia rentan sering kali menyerap mentah-mentah berbagai informasi yang tidak selaras dengan tingkat usia mereka.
Bahkan, Komisi Penyiaran Indonesia secara gamblang menemukan banyak unsur pelanggaran moral dalam konten siaran harian.
Baca juga: Eks Wasit Liga 1 Indonesia Pimpin Duel Colombia vs Portugal di Piala Dunia 2026
Berbagai pelanggaran penyiaran tersebut meliputi adegan kekerasan fisik, dialog yang menjurus vulgar, hingga pameran gaya hidup bebas secara berlebihan.
Sejumlah riset ilmiah juga membuktikan bahwa paparan muatan negatif televisi dapat merusak perkembangan mental serta psikologis generasi muda.
Dampak buruk kecanduan menonton bahkan bisa memicu penyimpangan perilaku sosial serta memicu penurunan fungsi indra penglihatan pada anak.
Melalui peringatan tahunan ini, publik diingatkan kembali untuk menjadi konsumen media yang cerdas demi melindungi masa depan anak bangsa.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Berbagai Sumber