GORONTALO - Pernahkah Anda merasa dongkol atau marah hampir sepanjang hari kemarin? Jika ya, Anda tidak sendirian.
Berdasarkan laporan terbaru Global Emotions 2025 yang dirilis oleh lembaga riset dunia, Gallup, sekitar 21% warga dewasa di Indonesia mengaku merasakan emosi marah dalam sebagian besar aktivitas harian mereka.
Angka ini mengindikasikan bahwa secara statistik, 1 dari 5 orang dewasa di tanah air menjalani hari-hari mereka dengan memendam atau mengekspresikan rasa amarah.
Baca juga: Timnas Indonesia U-19 Gugur Dramatis di Semifinal, Australia Melaju ke Final Piala AFF U-19
Di Mana Posisi Indonesia?
Dalam peta kesehatan emosional di kawasan Asia Tenggara (ASEAN), tingkat kemarahan masyarakat Indonesia berada di kelompok menengah.
Skuad paling santai di ASEAN dipimpin oleh Vietnam, yang hanya mencatatkan angka 5%.
Menariknya, angka mini tersebut membuat Vietnam dinobatkan sebagai salah satu negara dengan tingkat kemarahan terendah di dunia, bersanding dengan Finlandia.
Baca juga: Jam Berapa Pembukaan Piala Dunia 2026? Ini Jadwal Lengkap dan Link Live Streaming
Jika diurutkan dari yang tertinggi hingga terendah, berikut adalah peta persentase pengalaman emosi marah di Asia Tenggara berdasarkan data Gallup:
- Filipina: 32%
- Myanmar: 30%
- Laos: 28%
- Kamboja: 27%
- Indonesia: 21%
- Malaysia: 20%
- Thailand: 17%
- Singapura: 14%
- Vietnam: 5%
Baca juga: Pemerintah Gorontalo Garansi Transportasi dan Stok BBM Aman Jelang PENAS XVII
Melihat data di atas, posisi Indonesia masih berada di bawah Filipina yang memuncaki daftar, serta Myanmar dan Laos.
Meski begitu, indeks kemarahan warga Indonesia tercatat sedikit lebih tinggi dibanding negara tetangga dekat seperti Malaysia (20%) dan Singapura (14%).
Bukan Mengukur Karakter, Melainkan Frekuensi
Data yang dihimpun Gallup ini bukan merupakan validasi bahwa masyarakat sebuah negara memiliki watak yang agresif, kasar, atau pemarah.
Indikator anger (marah) dalam Gallup World Poll murni mengukur seberapa sering seseorang merasakan emosi negatif tersebut dalam durasi satu hari sebelum diwawancarai.
Kemarahan kolektif ini biasanya menjadi cerminan dari tingkat stres harian, tekanan ekonomi, kemacetan, hingga dinamika sosial di lingkungan sekitar, bukan tolok ukur angka kriminalitas atau temperamen bawaan.
Metodologi di Balik Angka
Riset berskala global ini diolah berdasarkan Gallup World Poll yang menyasar populasi remaja hingga dewasa berusia 15 tahun ke atas.
Menggunakan metode interaksi langsung via telepon maupun tatap muka, survei ini menjangkau responden di 144 negara demi mendapatkan sampel yang representatif secara nasional.
Untuk memastikan akurasi data, riset ini menerapkan margin of error yang ketat di kisaran 2,1 hingga 5,4 poin persentase dengan tingkat kepercayaan mencapai 95%.
Perbedaan hasil yang mencolok antar-negara ASEAN ini membuktikan bahwa meski berada di wilayah geografis yang bertetangga, kondisi psikologis masyarakatnya bisa sangat kontras.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Goodstats