Jumat, 03 APRIL 2026 • 12:50 WIB

5 Cara Elegan Menghadapi Si Playing Victim Tanpa Kuras Emosi

Author

Cara menghadapi si playing victim tanpa menguras emosi (Istimewa)

GORONTALO — Pernahkah kamu punya teman atau rekan kerja yang kalau ada masalah, selalu merasa dirinya yang paling menderita? 

Atau saat mereka melakukan kesalahan, ujung-ujungnya malah lingkungan atau orang lain yang disalahkan? Itu adalah ciri khas tipe kepribadian playing victim.

Baca juga: Strategi Self-Care Saat Harus Bertahan di Lingkungan Toxic

Menghadapi orang seperti ini memang butuh kesabaran ekstra. 

Kalau salah respons, bisa-bisa kamu malah terjebak dalam rasa bersalah yang nggak seharusnya. 

Supaya mental kamu tetap aman, yuk simak 5 cara elegan untuk menghadapi mereka!

Baca juga: Angka Perceraian Indonesia 2025 Meningkat di Tengah Badai Judi Online

1. Berikan Empati, Tapi Jangan Berlebihan

Mendengarkan keluhan mereka bukan berarti kamu harus ikut tenggelam dalam dramanya. 

Kamu tetap bisa menjadi pendengar yang baik tanpa harus memvalidasi bahwa mereka benar-benar "korban" dari keadaan.

Gunakan kalimat seperti, "Aku mengerti situasinya berat buat kamu," lalu segera alihkan pembicaraan ke hal yang lebih netral. Ingat, empati ada batasnya!

2. Pasang Boundaries yang Jelas

Orang yang hobi playing victim biasanya akan terus-menerus mencari perhatian. 

Jika kamu tidak menetapkan batasan, waktu dan energimu akan habis hanya untuk mendengarkan keluhan yang sama berulang kali.

Jangan ragu untuk bilang, "Maaf, aku cuma punya waktu 10 menit untuk ngobrol karena ada pekerjaan lain." Tegas bukan berarti jahat.

3. Hindari Kebiasaan Meminta Maaf Jika Tidak Salah

Si playing victim sering kali memanipulasi keadaan agar orang lain merasa bersalah. 

Jangan sampai kamu terjebak untuk meminta maaf hanya demi mengakhiri perdebatan atau menenangkan perasaan mereka.

Jika itu bukan kesalahanmu, tetaplah pada fakta. Meminta maaf saat tidak salah justru akan membuat mereka merasa perilaku manipulasinya berhasil.

4. Dorong Mereka Menemukan Solusi Sendiri

Alih-alih memberikan saran panjang lebar, cobalah untuk mengembalikan bola ke tangan mereka.

Tanyakan, "Terus, rencana kamu supaya hal ini nggak kejadian lagi apa?" atau "Menurutmu, apa langkah terbaik yang bisa kamu ambil sekarang?" 

Cara ini memaksa mereka menyadari bahwa mereka punya kontrol atas hidupnya sendiri.

5. Pahami Bahwa Kamu Bukan Penyelamat

Satu hal yang paling penting adalah kamu tidak bertanggung jawab atas kebahagiaan atau nasib orang lain. 

Menolong itu baik, tapi kamu bukan superhero yang harus membereskan semua kekacauan hidup mereka. Fokuslah pada kesehatan mentalmu sendiri. 

Jika interaksi dengan mereka mulai terasa beracun (toxic), menjaga jarak adalah pilihan yang sangat elegan dan bijaksana.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Beautynesia

Author
TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU