GORONTALO — Tiga malam terakhir menjelang Idulfitri di Provinsi Gorontalo tidak hanya sekadar terang oleh cahaya, tetapi juga sarat akan doa yang divisualisasikan.
Tradisi ini dikenal dengan Tumbilotohe, sebuah perpaduan kata dari tumbilo (memasang) dan tohe (lampu).
Meski kini telah bertransformasi dari lampu botol tradisional ke lampu hias modern, ruh dari tradisi ini tetap berpijak pada deretan atribut yang kaya akan makna spiritual.
Baca juga: Tumbilotohe: Pesona Cahaya Warisan Leluhur di Penghujung Ramadan Gorontalo
Atribut-atribut yang terpasang pada gerbang-gerbang cahaya ini bukanlah penghias semata, melainkan buku terbuka tentang perjalanan spiritual manusia menuju Sang Pencipta.
1. Alikusu: Gerbang Kehidupan dan Manifestasi Islam
Alikusu bukan sekadar tiang penyangga lampu, melainkan simbol gerbang kehidupan. Di sinilah filosofi kesatuan antara jasad (lampu) dan roh (cahaya) dipadukan.
Uniknya, jumlah 27 lampu yang tergantung memiliki hierarki simbolis:
- Dasar (13 lampu): Fondasi hidup yang melambangkan 13 rukun salat.
- Tengah (9 lampu): Penghormatan kepada teladan Islam, yakni Rasulullah SAW, empat sahabat utama, serta empat malaikat Allah.
- Atas (4 lampu): Mewakili empat tingkatan spiritual menuju Tuhan: Syariat, Tarekat, Hakikat, dan Makrifat.
- Puncak (1 lampu): Simbol mutlak ketauhidan, Dzat Yang Maha Tinggi, Allah SWT.
Baca juga: Waspada! 3 Bentuk Kontrol Pasangan yang Sering Dikira Tanda Perhatian
2. Janur Kuning (Lale): Kegembiraan Menjemput Lailatul Qadar
Janur kuning yang menghiasi Alikusu melambangkan pesona batin masyarakat Gorontalo.
Gerakannya yang gemulai saat tertiup angin adalah representasi kegembiraan dan kesiapan diri untuk bersolek secara spiritual demi menyambut datangnya malam seribu bulan, Lailatul Qadar.
3. Lampu Botol dan Tubu (Sumbu): Kekuatan Karakter
Lampu minyak menjadi pengingat akan rapuhnya hidup, sekali tertiup angin kencang, ia bisa padam. Secara filosofis, cahaya ini adalah Al-Qur'an yang menerangi jalan manusia.
Sementara itu, Tubu atau sumbu yang terbuat dari benang lurus mengajarkan tentang integritas.
Sumbu yang lurus akan menghasilkan api yang stabil, tapi jika sumbu tersebut kusut (perilaku buruk), cahaya kehidupan pun akan meredup dan kasar.
4. Bunga Polohungo: Harmoni dalam Perbedaan
Keberadaan Polohungo yang berwarna-warni menegaskan bahwa hidup tidak pernah monokrom. Ada duka, tawa, dan perbedaan pendapat yang mewarnai keseharian.
Namun, melalui ajaran Islam, segala perbedaan warna tersebut dapat dipadukan dalam satu harmoni yang indah.
5. Tebu (Patodu): Kedewasaan yang Manis
Tebu memberikan pelajaran tentang usia. Semakin tua ia tumbuh, semakin manis rasa yang dihasilkan.
Atribut ini adalah pesan bagi setiap insan untuk terus memperbaiki perilaku agar semakin bertambah umur, semakin memberikan manfaat dan kebaikan bagi sesama.
6. Pisang (Lambi): Kesetiaan dalam Pengabdian
Terakhir, pohon pisang hadir sebagai simbol kesuburan, kebersamaan, dan daya tahan.
Karakter pohon pisang yang hanya berbuah sekali sebelum mati menggambarkan totalitas dan kesungguhan dalam pengabdian kepada Tuhan serta sesama manusia.
Tumbilotohe adalah pengingat bahwa cahaya yang sesungguhnya harus menyala di dalam hati.
Melalui Alikusu dan atributnya, warga Gorontalo tidak hanya menerangi jalan ke masjid, tetapi juga sedang merawat lampu di dalam jiwa mereka masing-masing.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Berbagai Sumber