Rabu, 18 FEBRUARI 2026 • 13:11 WIB

Kenapa Awal Puasa Ramadan Selalu Maju Setiap Tahun? Ini Penjelasan Ilmiahnya

Author

Alasan mengapa Ramadan selalu maju setiap tahun (Istimewa)

GORONTALO — Menjelang Kamis, 19 Februari 2026, umat Muslim di seluruh penjuru dunia tengah bersiap menyambut fajar pertama Ramadan

Namun, sebuah fenomena unik selalu memancing rasa penasaran, mengapa tanggal awal puasa selalu berlari maju sekitar 10 hingga 12 hari setiap tahunnya pada kalender Masehi?

Jika Anda merasa Ramadan tahun lalu jatuh di tanggal yang lebih tua, Anda tidak salah. Berikut adalah bedah tuntas di balik rahasia penanggalan Islam yang dinamis ini.

Baca juga: Potret Pendidikan Indonesia 2025: Dominasi Lulusan SMA dan Tantangan Gelar Sarjana

Kunci utama dari pergeseran ini terletak pada sistem acuan yang digunakan. 

Kalender Masehi (Solar) berpatokan pada revolusi bumi mengelilingi matahari, sedangkan kalender Hijriah (Lunar) berpatokan pada fase pergerakan bulan mengelilingi Bumi.

Perbedaan mendasar ini menciptakan selisih waktu yang nyata. Kalender Masehi terdiri dari 365 hingga 366 hari per tahun, sedangkan kalender hijriah hanya terdiri dari 354 hingga 355 hari per tahun.

Baca juga: Aturan Jam Operasional Usaha di Kota Gorontalo Selama Ramadan 2026

Selisih sekitar 11 hari inilah yang menyebabkan bulan Ramadan selalu terasa maju dalam kalender Masehi. Meski bagi kita tanggalnya berubah-ubah, dalam kalender Hijriah, Ramadan tetap setia jatuh pada tanggal 1 setiap tahunnya.

Seni Menentukan Hilal

Di Indonesia, menetapkan kapan kita mulai berhenti makan dan minum sebelum fajar melibatkan ilmu astronomi dan observasi fisik yang mendalam.

Pemerintah Indonesia menggabungkan dua cara utama: Rukyatul Hilal (pemantauan mata telanjang/teleskop) dan Hisab (perhitungan matematis).

Baca juga: Panduan Lengkap Mandi Wajib: Tata Cara, Niat, dan Dalil Syariatnya

Ada beberapa kriteria dan mazhab yang digunakan organisasi besar di tanah air.

  • 1. Kriteria MABIMS (Pemerintah): Mengikuti standar Menteri Agama Brunei, Indonesia, Malaysia, dan Singapura. Hilal dinyatakan sah jika tingginya minimal 3 derajat dengan sudut elongasi 6,4 derajat.
  • 2. PBNU (Nahdlatul Ulama): Mengandalkan metode Hisab Imkanur Rukyah Nahdlatul Ulama (IRNU). Mereka mengombinasikan data astronomi yang kemudian harus diverifikasi dengan penampakan hilal secara nyata di lapangan.
  • 3. Muhammadiyah: Setia dengan metode Hisab Hakiki Wujudul Hilal. Bagi mereka, selama posisi bulan sudah berada di atas ufuk (meskipun hanya 0,1 derajat) saat matahari terbenam, maka esok hari sudah masuk tanggal 1 Ramadan tanpa perlu observasi fisik.

Bagaimana dengan Negara Arab?

Di kawasan Timur Tengah, otoritas keagamaan biasanya melakukan pemantauan hilal secara serentak pada tanggal 29 Syakban. 

Jika bulan sabit tipis terlihat, maka malam itu juga Ramadan diumumkan. Jika tidak, bulan Syakban digenapkan menjadi 30 hari (istikmal).

Perbedaan metode inilah yang terkadang membuat awal puasa di satu negara berbeda dengan negara lainnya.

Namun, esensinya tetap sama yakni menyambut bulan penuh ampunan dengan hati yang bersih.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Beautynesia

Author
TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU