GORONTALO – Mohamad Hatta, sang proklamator yang dikenal dengan kesederhanaannya, selalu menyajikan kisah hidup yang jauh dari gemerlap.
Tokoh kelahiran 12 Agustus 1902 ini terkenal dengan fokusnya yang total pada pergerakan nasional, dan minim pengalaman asmara. Namun, di balik sikapnya yang dingin terhadap perempuan, terdapat satu janji legendaris: pantang menikah sebelum Indonesia merdeka.
November menjadi bulan bersejarah bagi Bung Hatta karena pada bulan inilah janji saktinya berakhir dan ia meresmikan kebahagiaannya.
Baca juga: Filosofi Kehidupan: 5 Fakta Pahit yang Harus Diterima Biar Hidup Dewasa Lebih Realistis
Kisah Cinta yang Berawal dari Janji Sakti
Hatta menghabiskan masa lajangnya di dunia pergerakan dan buku. Ia dikenal sebagai aktivis yang paling banyak membaca dan aktif menulis pemikirannya di berbagai media. Berdasarkan buku Hatta Jejak yang Melampaui Zaman (Tempo), saking fokusnya, muncul anekdot yang menyebut kekasih Hatta adalah buku.
Hatta bahkan pernah dengan sengaja membercaki tangannya dengan tinta hanya untuk menolak ajakan dansa, demi tidak mengganggu jam membacanya.
Kisah lain diceritakan oleh Soekarno, yang tahu betul betapa Hatta menjaga jarak dari perempuan. Soekarno pernah berujar, jika Hatta mogok mobil bersama seorang wanita di tempat terpencil, keduanya akan ditemukan tidur pulas di sudut yang berjauhan.
Bahkan ketika teman-temannya di Belanda pernah menjebaknya dengan mengatur makan malam bersama seorang gadis Polandia, tidak terjadi apa-apa. Si gadis menyerah dan menjawab Hatta "seperti pendeta," karena Hatta sama sekali tidak tergoda.
Janji Berakhir, Soekarno Turun Tangan
Kemerdekaan Indonesia pada Jumat, 17 Agustus 1945, menjadi hari bersejarah ganda bagi Bung Hatta. Selain meraih kedaulatan bangsa, janji saktinya pun berakhir. Ia melamar Rahmi Rachim, seorang perempuan yang terpaut usia 26 tahun dengannya.
Dalam buku Hatta, Hikayat Cinta dan Kemerdekaan (2010), terungkap bahwa pertemuan pertama Hatta dan Rahmi Rachim sebenarnya terjadi dua tahun sebelumnya di jamuan makan malam di rumah Sartono. Pertemuan yang diadakan untuk merayakan kepulangan Soekarno dari pengasingan di Bengkulu ini, menjadi momen Hatta menambatkan hati pada pandangan pertama.
Baca juga: Belajar dari Kasus Anggota DPRD Gorontalo, Mustafa Yasin: Ini 7 Tips Lolos dari Penipuan Haji
Pertemuan inilah yang disinggung Hatta, dan membuat Soekarno bertindak sebagai 'biro jodoh'. Soekarno lantas menemui orang tua Rahmi, Abdul Rachim dan Annie Rachim, untuk meminang putri mereka bagi Bung Hatta.
November Bulan Bahagia
Keluarga Rahmi sempat ragu karena perbedaan usia yang signifikan. Namun, Soekarno meyakinkan Rahmi: "Aku mengenal Hatta sebagai sahabat dan seorang pemimpin yang baik. Ia benar-benar orang yang sangat baik. Engkau tidak akan menyesalinya."
Rahmi sendiri menyimak pidato Hatta dari radio dan menganggap Hatta sebagai sosok cerdas yang memegang teguh prinsip, moralitas, dan tanggung jawab.
"Ia sangat mencintai Indonesia sehingga berjanji tak hendak beristri sebelum Indonesia merdeka. Itulah janjinya dan ia memenuhinya," tutur Rahmi Rachim (Yuke).
Hatta dan Rahmi Rachim akhirnya melangsungkan pernikahan pada 18 November 1945 di Megamendung, Bogor. Mas kawin yang diberikan Hatta terbilang istimewa: sebuah buku berjudul Alam Pikiran Yunani. Buku ini mengulas pemikir Yunani kuno dan dikerjakan Hatta saat diasingkan di Digul pada 1934. Meskipun sempat membuat ibunda Hatta jengkel, pernikahan tetap berjalan.
Meskipun pernikahan Hatta diwarnai rintangan seperti serangan Belanda pada 10 November 1945 yang membuat Hatta disibukkan dengan diplomasi, rencana tersebut tidak batal. Pernikahan itu kemudian dihadiahi tiga orang putri: Meutia Farida Hatta, Gemala Rabi’ah Hatta, dan Halida Nuriah Hatta.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Buku Tempo, Berbagai Sumber