Selasa, 04 NOVEMBER 2025 • 17:24 WIB

Kunjungi Museum Purbakala Gorontalo, Peserta Peran Saka Nasional Belajar Sejarah, Pembuatan Film, hingga Budaya Gorontalo

Author

Peserta Peran Saka Nasional 2025 diminta meresensi cerita rakyat Gorontalo saat berkunjung ke Museum Purbakala Gorontalo (Indozone Gorontalo)

GORONTALO – Peserta Peran Saka Nasional 2025, khususnya anggota Saka Widya Budaya Bakti (SWBB) berkunjung ke Kantor UPTD Museum Purbakala Gorontalo, Selasa, 4 November 2025.

Kunjungan ini dirancang sebagai bagian dari kegiatan SWBB untuk memperkenalkan sejarah, budaya, dan keterampilan praktis kepada peserta.

Ketua Pimpinan Saka Widya Budaya Bakti Provinsi Gorontalo, Suleman Haridji, mengatakan kegiatan ini merupakan bagian dari penguatan krida atau satuan terkecil dalam saka.

Baca juga: Kunjungan Pertama Soekarno ke Gorontalo Bulan November 1951 Diwarnai Protes dan Penangkapan

"Dalam SWBB ada tujuh krida, jadi ini merupakan bagian dari kegiatan Saka Akademik, maksudnya peserta Peran Saka akan mendalami setiap krida yang ada," katanya.

Selain mendapat pengetahuan tentang sejarah dan budaya Gorontalo, 39 anggota Saka Widya Budaya Bakti dari berbagai daerah mendapat pengetahuan tentang kecakapan hidup, yang merupakan salah satu krida dari saka itu sendiri.

"Mereka kami bagi tiga kelompok, nanti mereka dirotasi, ada yang berkunjung ke ruang koleksi, ada yang ke ruang teater, ada juga yang mengikuti materi krida pendidikan kecakapan hidup," ujarnya.

Baca juga: Mengintip Serunya Anggota Saka Widya Budaya Bakti Bikin Kue Dumalo di Peran Saka Nasional 2025

"Besok mereka akan ke Benteng Otanaha dan Museum Pendaratan Soekarno, setelah itu gantian, yang berkegiatan di Buper, itu dibawa ke sini, dan dua tempat tadi," sambungnya.

Pengetahuan Baru dan Motivasi Kreatif

Jeje, perwakilan kontingen Kwartir Daerah (Kwarda) Sulawesi Selatan mengungkapkan bahwa kunjungan ini membuka wawasan baru baginya.

"Tadi kita sudah nonton teater soal sejarah Gorontalo, terus ke museum koleksi yang ada di dalam. Tentu ini jadi pengalaman baru kami, kami bisa tahu sejarah atau benda peninggalan sejarah Gorontalo," ujar Jeje.

Pengalaman serupa juga dirasakan oleh Suci Ramadani, kontingen dari Kwartir Cabang (Kwarcab) Toli-Toli. Bagi Suci, Gorontalo memberikan suguhan pengetahuan yang langsung dan berkesan.

Baca juga: Tampil di Jumpa Tokoh Peran Saka Nasional, Rachmat Gobel Beri Tips Jadi Pengusaha hingga TV ke Peserta

"Ini pengalaman pertama saya ke Gorontalo dan langsung disuguhi pengetahuan baru. Saya jadi tahu tentang Gorontalo, sejarah kenapa sampai terbentuk Provinsi Gorontalo," kata Suci.

Selain sejarah administratif, Suci juga senang mendapat materi pengenalan budaya lokal, khususnya kuliner. Peserta diperkenalkan pada kue tradisional khas Gorontalo, seperti Dumalo dan kudapan khas Diniyohu.

Intensitas edukasi dalam kunjungan ini tidak hanya terbatas pada sejarah dan kuliner. Peserta juga mendapatkan pelatihan yang mengasah sisi kreatif mereka.

"Tadi juga ada pelatihan pembuatan film, itu sangat bisa dijadikan motivasi, apalagi yang punya cita-cita jadi sutradara. Intinya kegiatan hari ini sangat seru," tambah Suci.

Kegiatan ini berhasil mencapai tujuannya, yaitu memberikan pengetahuan substantif mengenai sejarah dan budaya lokal Gorontalo, sekaligus memicu motivasi peserta dalam ranah industri kreatif seperti sinematografi.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Liputan

Author
TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU