GORONTALO – Presiden Republik Indonesia pertama, Soekarno, pertama kali menginjakkan kakinya ke Gorontalo pada bulan November 1951.
Kunjungan Soekarno ke Gorontalo merupakan bagian dari upaya tour 11 hari ke 11 daerah di Samudra Timur untuk memperkuat persatuan bangsa di tengah sejumlah gejolak regional pasca-kemerdekaan.
Kedatangan Soekarno disambut antusiasme luar biasa dari ratusan warga pada Selasa, 20 November 1951.
Baca juga: Mengintip Serunya Anggota Saka Widya Budaya Bakti Bikin Kue Dumalo di Peran Saka Nasional 2025
Meski sempat tertunda karena masalah kesehatan, pesawat Catalina Amboina yang ditumpangi Soekarno akhirnya berhasil mendarat di Danau Limboto, Desa Iluta.
Masyarakat setempat, dari sekitar Teluk Tomini, memadati pesisir danau.
Mereka bahkan rela berdiri di atas perahu-perahu, mengibarkan bendera Merah Putih menyambut kedatangan putra sang fajar.
Kunjungan ini memiliki makna khusus karena Gorontalo dikenal sebagai lokasi revolusi damai 23 Januari 1942 yang diprakarsai sahabat Soekarno, Nani Wartabone.
Dari Danau Limboto, Soekarno diarak menggunakan mobil jip menuju pusat kota.
Setibanya di sana, Soekarno langsung memimpin Rapat Raksasa di alun-alun kota (kini Lapangan Taruna Remaja).
Dalam pertemuan tersebut, pidato Soekarno mendapat respons tak terduga berupa protes dari komunitas Arab di Gorontalo.
Protes ini diduga dipicu oleh rencana Kementerian Dalam Negeri saat itu mengenai pendaftaran warga negara keturunan asing pada tahun 1951.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Buku Digital BPCB Gorontalo