GORONTALO - Baru-baru ini, Pengadilan Tinggi Gorontalo menggelar ziarah kubur ke makam Brigjen TNI (Purn) Piola Isa.
Makam Brigjen TNI (Purn) Piola Isa terletak di Kelurahan Bolihuangga, Kecamatan Limboto, Kabupaten Gorontalo.
Di acara tersebut, Pengadilan Tinggi beserta satuan kerjanya menggelar upacara tabur bunga.
Baca juga: Pemkot Gorontalo Mulai Mutasi Pejabat Usai HUT RI ke-80, Camat dan Lurah Duluan
Kegiatan ini merupakan rangkaian dari peringatan HUT RI ke-80 dan HUT Mahkamah Agung ke-80 tahun 2025.
Pendekar Hukum Sekaligus Pejuang
Di mata Ketua Pengadilan Tinggi Gorontalo, Yapi, sosok Brigjen TNI (Purn) Piola Isa merupakan pendekar hukum sekaligus pejuang.
Semasa hidupnya, Brigjen TNI (Purn) Piola Isa menduduki sejumlah jabatan strategis.
Baca juga: Royalti Musik untuk UMKM: Pemilik Warkop di Gorontalo Minta Regulasi Jelas agar Tak Memberatkan
Salah satunya sebagai Hakim Agung sekaligus Ketua Muda urusan Lingkungan Peradilan Militer Mahkamah Agung.
Sebelum itu, Brigjen TNI (Purn) Piola Isa sempat berjuang mengusir Belanda di tanah air.
Ia juga ikut dalam barisan Nani Wartabone melawan Pemerintah Revolusioner Republik Indonesia (PRRI) dan Perjuangan Rakyat Semesta (Permesta).
Baca juga: Kronologi Polisi di Gorontalo Menghilang di Hari Pernikahan
"Kita patut bangga mengenang jasa beliau," kata Yapi saat diwawancarai, Senin, 11 Agustus 2025.
"Bagi kami, dedikasi beliau menjadi spirit dan tuntunan dalam memberikan pelayanan hukum kepada masyarakat Gorontalo yang lebih baik," sambungnya.
Profil Singkat Piola Isa
Dikutip dari buku Riwayat Hidup Anggota-Anggota Majelis Permusyawaratan Rakyat Hasil Pemilihan Umum 1971, Piola Isa lahir di Gorontalo pada 11 Oktober 1923.
Baca juga: Polisi yang Menghilang di Hari Pernikahan Dilaporkan ke Propam Polda Gorontalo
Berbekal ijazah Meer Uitgebreid Lager Onderwijs (MULO), Piola Isa muda awalnya bekerja sebagai pegawai Qokura Dobokutai Pare-Pare pada tahun 1942 hingga 1945.
Setelah itu, Piola Isa mulai aktif di dunia ketentaraan Indonesia.
Pada tahun 1945-1946, Piola Isa tercatat sebagai anggota Tentara Keamanan Rakyat (TKR) Sulawesi Selatan.
Kemudian sejak tahun 1946 sampai dengan 1950, ia menjadi anggota Tentara Rakyat Indonesia Sulawesi atau TRIS.
Selama berkarier di militer, Piola Isa terlibat dalam sejumlah perang. Misalnya pada Agresi Militer Belanda Kedua pada bulan Desember 1948.
Selain itu, Isa juga ikut terlibat dalam penumpasan pasukan KNIL Kapten Andi Azis, penumpasan Republik Maluku Selatan (RMS), dan penumpasan DI/TII di Sulawesi Selatan.
Di Gorontalo, ia membantu Nani Wartabone melawan PRRI/Permesta yang tengah bergejolak. Hasilnya, daerah Telaga di Timur Laut Gorontalo jatuh ke tangannya.
Jadi Hakim Agung
Pada 1963, Piola Isa kemudian melanjutkan pendidikannya di Perguruan Tinggi Hukum Militer (PTHM).
Sebagaimana dikutip Historia.id dari Siapa Dia Perwira Tinggi Tentara Nasional Indonesia Angkatan Darat, Isa merupakan angkatan pertama PTHM.
Setelah meyandang gelar Sarjana Hukum, Piola Isa bertugas di Mahkamah Agung. Lalu pada tahun 1081, ia menjadi Hakim Agung sekaligus Ketua Muda Urusan Lingkungan Peradilan Militer Mahkamah Agung.
Jabatan inilah yang membuat pangkat Piola Isa di kemiliteran naik menjadi Brigadir Jenderal.
Selain aktif di bidang hukum dan militer, Piola Isa juga aktif dalam bidang politik. Tahun 1971, ia tercatat sebagai anggota fraksi Golongan Karya (Golkar).
Gelar Adat
Piola Isa wafat di Gorontalo pada 19 Juni 1990. Ia dimakamkan tepat di belakang rumahnya yang berada di Kelurahan Bolihuangga, Kecamatan Limboto, Kabupaten Gorontalo.
Sebagai putra daerah yang memiliki jasa besar bagi bangsa ini, Piola Isa dianugerahi gelar adat: Ta Ikhlasi To Bubaya Looloopo (putra Indonesia terbaik yang ikhlas mengabdi kepada bangsa dan negara di berbagai bidang pemerintahan).
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Liputan, Historia.id