Ilustrasi pekerja perempuan (Istimewa)
GORONTALO — Di balik dinamika ekonomi Indonesia, sebuah tantangan struktural masih membayangi yakni ketimpangan gender dalam partisipasi kerja.
Data terbaru menunjukkan bahwa meskipun angkatan kerja terus tumbuh, perempuan masih menghadapi tembok besar untuk bisa terlibat setara dengan laki-laki di ekosistem ekonomi nasional.
Indikator utamanya terlihat pada Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (TPAK).
Baca juga: Lebaran Ketupat 2026: Tanpa Pacuan Kuda dan Karapan Sapi, tapi Semangat Kebersamaan Tetap Menyala
Sebagai alat ukur seberapa besar penduduk usia kerja (15 tahun ke atas) yang aktif secara ekonomi, TPAK mencerminkan ketersediaan pasokan tenaga kerja (labour supply).
Sayangnya, angka ini menunjukkan tren stagnasi yang mengkhawatirkan.
Berdasarkan laporan Badan Pusat Statistik (BPS) per Agustus 2025, TPAK Indonesia berada di level 70,59%.
Baca juga: Isimu Naik Kelas: Bupati Sofyan Puhi Resmikan Kawasan Kuliner Legal dan Dorong Digitalisasi UMKM
Jika ditarik mundur, angka ini justru mengalami penurunan tipis secara konsisten dari Februari 2025 (70,60%) dan Agustus 2024 (70,63%).
Namun, poin krusialnya bukan hanya pada penurunan tipis tersebut, melainkan pada disparitas gender yang sangat kontras:
Baca juga: Bupati Sofyan Puhi Sebut Lebaran Ketupat Sebagai Identitas Gorontalo
Realitanya, partisipasi laki-laki hampir 1,5 kali lipat lebih tinggi dibandingkan perempuan.
Dari setiap 100 perempuan usia kerja, hanya sekitar 57 orang yang terjun ke pasar kerja, sementara sisanya masih berada di luar angkatan kerja karena berbagai faktor.
Ketimpangan ini kian meruncing jika kita membedah jenis kegiatannya.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Goodstats, BPS