Sejarah korek api yang mengubah dunia (Istimewa)
GORONTALO – Korek api mungkin adalah benda paling gaib di rumah kita, sering menghilang saat dibutuhkan, lalu muncul tiba-tiba di tempat yang tak terduga.
Di balik fisiknya yang sederhana dan harganya yang murah, sejarah korek api adalah sebuah saga tentang keberanian, kecelakaan laboratorium yang beruntung, hingga perjuangan melawan zat beracun yang mematikan.
Penemuan alat pemantik praktis ini tidak terjadi dalam semalam. Ia melewati fase panjang.
Baca juga: Rajut Harmoni Pasca-Lebaran: Bupati Gorontalo Sambut Kunjungan Safari Idulfitri Gubernur Gorontalo
Para ilmuwan bertaruh nyawa untuk menjinakkan reaksi kimia agar api bisa menyala hanya dengan satu gesekan ringan.
Perjalanan ini dimulai pada tahun 1680. Fisikawan terkemuka Robert Boyle mencoba mengombinasikan fosfor dan belerang.
Meskipun ia berhasil menciptakan percikan api, metode ini sangat tidak stabil dan berisiko meledak secara spontan.
Baca juga: Jaga Kesakralan Tradisi: Ketua DPRD Kabupaten Gorontalo Tekankan Lebaran Ketupat Bebas Miras
Fosfor pada masa itu masih sangat mahal dan sulit didapat, sehingga penemuan Boyle terkubur selama ratusan tahun sebagai eksperimen laboratorium yang dianggap tidak praktis bagi masyarakat umum.
Titik balik besar terjadi pada tahun 1826 di apotek milik John Walker di Inggris.
Saat itu, Walker sedang mengaduk campuran bahan kimia yang terdiri dari antimon sulfida dan kalium klorat menggunakan sebatang kayu kecil.
Baca juga: Menelusuri Filosofi dan Keunikan Arsitektur Rumah Adat Gorontalo
Ia menyadari ada gumpalan kering di ujung stik tersebut. Saat ia mencoba mengikisnya dengan menggesekkan stik ke lantai, gumpalan itu tiba-tiba terbakar. Inilah momen lahirnya korek api gesek pertama di dunia.
Walker mulai menjualnya dengan nama Friction Lights, meskipun ia menolak untuk mematenkan temuannya karena ingin alat ini bisa digunakan secara luas oleh orang banyak.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Viva Gorontalo