GPIG Sentrum, gereja tertua di Gorontalo (GPIGsentrumgorontalo)
GORONTALO — Provinsi Gorontalo mungkin dikenal luas dengan julukan “Serambi Madinah”, tapi di balik identitas religiusnya yang kuat, tersimpan narasi keberagaman yang telah mengakar sejak ratusan tahun silam.
Salah satu saksi bisu perjalanan panjang tersebut adalah kehadiran gereja bersejarah yang menjadi bagian tak terpisahkan dari mozaik kebudayaan di Provinsi Gorontalo.
Berdiri kokoh di Kelurahan Tenda, Kota Gorontalo, Gereja Sentrum tercatat sebagai salah satu gereja tertua.
Baca juga: Cerita Rakyat Limonu: Sosok Legendaris Gorontalo yang Tak Lekang oleh Waktu
Keberadaannya bersinggungan langsung dengan masa kolonial Belanda pada abad ke-16.
Gereja ini merupakan bagian dari sejarah Gereja Protestan Indonesia (GPI) yang melayani wilayah Gorontalo.
Dalam perjalanannya, Gereja Protestan di Gorontalo mengalami transformasi besar.
Baca juga: Target Terlampaui, PAD Kabupaten Gorontalo Tembus Rp189,9 Miliar di 2025
Pada tahun 1861, telah terbentuk Persekutuan Jemaat Kristen yang dikenal sebagai Jemaat Imanuel Wilayah I Kota Gorontalo.
Berdasarkan keputusan Badan Pekerja Am GPI di Jakarta pada 30 April 1964, gereja ini dimekarkan menjadi Gereja Protestan Indonesia di Gorontalo (GPIG).
GPIG resmi berdiri sendiri pada 18 Juli 1965, dengan Pendeta J. Pondaag sebagai Ketua Badan Pekerja Sinode periode pertama.
Baca juga: 89 Kekerasan terhadap Jurnalis Terjadi Sepanjang 2025, Pelaku Paling Banyak dari Polisi
Selain sejarah gereja Protestan, umat Katolik di Gorontalo juga baru saja merayakan momentum bersejarah yang menyentuh angka 1,5 abad.
Pada 21 Januari 2026, Paroki St. Kristoforus menggelar peringatan 150 tahun pembaptisan pertama di Gorontalo.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Berbagai Sumber