Rabu, 27 AGUSTUS 2025 • 21:31 WIB

Seleksi Pemain GSI Kota Gorontalo Picu Protes, Orang Tua Siswa Kecewa

Author

Ratna Adam, salah satu orang tua yang protea seleksi ulang pemain usai turnamen GSI (HO/Husnul Puhi)

GORONTALO – Gelaran turnamen sepak bola Gala Siswa Indonesia (GSI) tingkat Kota Gorontalo menuai sorotan.

Alih-alih menjadi ajang pencarian bakat siswa SMP, proses seleksi pemain justru memicu kemarahan sejumlah orang tua.

GSI sejatinya dirancang sebagai wadah pembinaan talenta muda di bidang sepak bola, dengan sistem berjenjang mulai dari kabupaten/kota, provinsi, hingga nasional.

Baca juga: 30 Warga Gorontalo Kerja Ilegal di Kamboja, Ini Alasannya

Mekanisme ini diharapkan memberi peluang yang adil bagi seluruh peserta dari 38 provinsi. Namun, polemik muncul ketika panitia berencana menggelar seleksi tambahan setelah turnamen usai.

Padahal, menurut informasi yang beredar, aturan teknis menyebut pemain yang lolos ke tingkat provinsi berasal dari tim juara 1, 2, dan 3.

Rinciannya, 11 pemain dari tim juara pertama, lima dari juara kedua, dan dua dari juara ketiga.

Baca juga: P4MI Ingatkan Warga Gorontalo: Cari Kerja ke Luar Negeri yang Resmi, Untuk Kamboja? Janganlah

Ratna Adam, salah satu orang tua siswa, mengaku kecewa dengan keputusan tersebut. Ia menilai seleksi ulang tidak adil dan merugikan anak-anak yang sudah berlatih keras untuk memenangkan pertandingan.

"Untuk apa dibuat seleksi lagi? Pertanyaan saya siapa yang menyeleksi?" kata Ratna.

Ratna mengaku mendapat informasi itu dari salah satu guru yang tim sekolahnya berhasil menjadi juara. Ia menilai keputusan ini cacat prosedur karena menyalahi aturan yang seharusnya.

Baca juga: Dua Air Mancur Baru Bakal Dibangun di Kabupaten Gorontalo, Air Mancur Taman Budaya Limboto Tinggal Kenangan

Terkait hal tersebut, Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Gorontalo, Lukman Kasim, angkat bicara.

Menurutnya, juknis GSI memang membuka dua metode seleksi, yakni berdasarkan kompetisi dan penilaian keterampilan dasar oleh tim pencari bakat (scouting).

"Kota Gorontalo memilih sistem kompetisi. Dalam kompetisi tim pencari bakat (scouting) mestinya melakukan penilaian terhadap pemain dari awal sampai dengan selesai kompetisi," ujar Lukman saat dikonfirmasi di ruangannya, pada Rabu, 27 Agustus 2025.

Ia juga membenarkan bahwa pihaknya bersama perwakilan guru telah menggelar dua kali rapat pasca-turnamen.

Hasil rapat merekomendasikan adanya seleksi ulang terhadap 40 pemain. Namun, Lukman mengaku sempat mempertanyakan keputusan tersebut.

“Kalau sudah ada kesepakatan menyeleksi lagi 40 pemain, untuk apa kompetisi dibuat?” katanya.

Sebagai jalan tengah, Lukman akhirnya hanya mengambil 28 pemain untuk seleksi tambahan. Dari jumlah itu, 12 pemain berasal dari tim juara, sementara sisanya diambil dari tim juara dua dan tiga.

Meski begitu, langkah ini tetap bertolak belakang dengan prinsip awal bahwa seleksi harus murni lewat jalur kompetisi.

"Saya hanya butuh 28 pemain. Dari jumlah itu, 12 dari tim juara, dan saya sendiri yang akan melakukan penilaian,” tegas Lukman. 

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Liputan

Author
TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU