Selasa, 26 AGUSTUS 2025 • 09:55 WIB

Awal Mula Warga Gorontalo Jadi Scammer di Kamboja, Tertipu Teman Sendiri

Author

Sasmita Hilimi memperlihatkan tiket keberangkatan Agus ke Kamboja (HO/Vera)

GORONTALO - Agus Hilimi, warga Desa Tolotio , Kecamatan Tibawa, Kabupaten Gorontalo berharap dipulangkan dari Kamboja.

Sebelumnya, ia dihubungi temannya yang bernama Ebi, warga Telaga, Kabupaten GorontaloDia dijanjikan sebuah pekerjaan di Thailand.

Alih-alih ke Thailand, Agus malah dibawa ke Kamboja, hingga dipaksa jadi scammer atau penipu via media sosial.

Baca juga: Warga Gorontalo Kena Tipu Lowongan Kerja, Kini Dipaksa Jadi Scammer di Kamboja

Saudara Agus, Sasmita Hilimi menuturkan, Agus bertolak dari Gorontalo ke Jakarta pada 7 Agustus 2025 kemarin.

Baik adminitrasi hingga biaya tiket pesawat sudah ditanggung perusahaan melalui Ebi.

"Gorontalo-Jakarta tiga hari, bikin paspor, terus ke Malaysia," kata Sasmita.

Baca juga: Ibu Korban Dugaan Persetubuhan Polisi di Bone Bolango Temui Kapolda: di Mana Keadilan untuk Anak Saya?

Di Thailand, Agus dijanjikan pekerjaan sebagai admin dengan gaji Rp9,2 juta per bulan. Dari Gorontalo ia berangkat bersama satu temannya.

"Yang rekrut dia temannya, namanya Ebi. Tiket sudah disiapkan. Ada yang ikut dengan dia, tapi bisa kabur waktu masih di Jakarta," ungkap Sasmita.

Beberapa hari berselang, Agus mengira telah tiba di Thailand. Alangkah kagetnya ia ternyata sudah berada di Kamboja.

Baca juga: Polda Gorontalo Minta Keluarga Korban Dugaan Persetubuhan Anggota Polisi Bersabar

Karena kebingungan, Agus langsung memberitahu keluarganya di Gorontalo.

"Dia beritahu ternyata dia bukan ke Thailand, tapi ke Kamboja. Dia shareloc. Dia juga bilang kalau dia tidak aktif berarti dia ketahuan melapor," ungkapnya.

Dipaksa Jadi Scammer

Pekerjaan yang dijanjikan Ebi kepada Agus ternyata bohong. Di sana, Agus dipaksa menjadi scammer atau penipu via media sosial, dan aplikasi.

Ia bekerja di bawah tekanan dan pengawasan penuh. Sehari dia wajib mendapat dua nomor WhatsApp korban.

Jika tidak, ada hukuman kerja lembur, denda, hingga penyiksaan fisik menanti. 

"Kerjanya tipu-tibu orang, ada target, kalau tidak capai target ada penyiksaan," katanya.

Upaya dan Harapan Keluarga

Mengetahui saudaranya tertipu lowongan kerja, Sasmita langsung melapor ke pemerintah desa.

Namun, pemerintah desa tak bisa berbuat apa-apa. Ia kemudian melapor ke polres, tapi diarahkan ke Polda Gorontalo.

"Mereka [Polda Gorontalo] minta bukti dan kronologinya dia sampai ke Kamboja. Sebagian [bukti] sudah ada," ujarnya.

Sasmita sendiri sempat menahan saudaranya itu pergi. Ia khawatir akan terjadi sesuatu kepada saudaranya menyusul banyaknya berita soal korban penipuan lowongan kerja, terutama di Kamboja.

 Namun, upaya Sasmita tuntuk menahan saudaranya pegi tak berhasil. Agus tetap berangkat karena tergiur gaji tinggi dan harapan mengubah nasib keluarga.

Saat ini, Agus hanya berharap bisa pulang. Untuk bisa pulang, ia harus membayar denda sebesar Rp50 juta. Itu pun belum ada jaminan dia bakal diizinkan pulang.

Oleh sebab itu, Sasmita berharap bantuan pemerintah untuk memulangkan saudaranya ke Gorontalo.

"Jadi kita minta tolong ke pemerintah, pak bupati, pak gubernur, kita minta tolong supaya diberi bantuan agar adik saya bisa pulang," pungkasnya.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Liputan

Author
TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU