GORONTALO – Festival Apangi Gorontalo merupakan sebuah perayaan budaya bernuansa religius yang sangat melekat di hati masyarakat setempat.
Dalam tradisi unik ini, ribuan warga secara gotong-royong memproduksi kue apangi, dan dibagikan secara gratis.
Apangi sendiri adalah sebuah panganan tradisional yang menyerupai kue apem.
Baca juga: Unik dan Religius, Ini 4 Kegiatan Masyarakat Gorontalo Sambut Tahun Baru Islam
Agenda tahunan ini bukan sekadar pesta rakyat biasa, melainkan sarana sakral mempererat tali silaturahmi antar-sesama manusia.
Asal-Usul dan Waktu Pelaksanaan
Festival keagamaan ini rutin digelar setiap tanggal 10 Muharram dalam kalender Islam yang bertepatan dengan Hari Asyura.
Festifal ini awalnya populer di Kelurahan Dembe I, Kecamatan Kota Barat, Kota Gorontalo, tepatnya di sekitar kawasan cagar budaya Benteng Otanaha.
Baca juga: Hantam Myanmar 3-0, Timnas Indonesia U-19 Awali Piala AFF 2026 dengan Sempurna
Walau berpusat di sana, gairah kemeriahan festival ini juga meluas hingga ke berbagai wilayah Provinsi Gorontalo.
Fakta Menarik Seputar Festival
Saat hari perayaan tiba, bukan cuma penduduk lokal yang bisa menikmati kue apangi.
Wisatawan dari luar pun akan disambut dengan hangat menikmati hidangan kue ini secara gratis.
Baca juga: Lama Terbengkalai, Objek Wisata Taluhu Barakati Gorontalo Bakal Bersolek Kembali
Antusiasme yang tinggi membuat jumlah produksi panganan ini terbilang fantastis karena diperkirakan ada lebih dari 10.000 butir kue apangi yang disajikan oleh masyarakat dalam satu hari pelaksanaan.
Hal yang paling mengagumkan adalah kemandirian festival ini. Seluruh biaya pembuatan kue hingga hiasan pernak-pernik murni berasal dari dana swadaya masyarakat tanpa menggantungkan diri pada sponsor.
Di samping itu, kudapan ini menyimpan filosofi mendalam yang dikenal dengan istilah 3M dalam bahasa lokal, yaitu monga, moduho, modelo yang berarti menjalin, merawat, dan mempererat ikatan silaturahmi.
Catatan Historis Perjalanan Tradisi
Jika menilik rekam jejak sejarahnya, kebiasaan menyajikan kue apangi ini sebenarnya sudah eksis sejak zaman nenek moyang terdahulu.
Pada masa lampau, warga terbiasa membawa kue hasil olahan rumah mereka ke masjid terdekat untuk disantap bersama-sama oleh para jemaah setelah menunaikan ibadah.
Melihat adanya nilai sosial dan spiritual yang begitu baik, masyarakat setempat bersama pemerintah daerah akhirnya sepakat untuk mengemas kebiasaan luhur ini menjadi sebuah festival berskala besar.
Langkah transformatif tersebut ditempuh demi melestarikan kebudayaan asli sekaligus mendongkrak sektor pariwisata daerah.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Berbagai Sumber