GORONTALO — Menjadi orang tua adalah perjalanan belajar tanpa henti.
Namun, terkadang tanpa disadari, ada perilaku sehari-hari yang kita anggap biasa tetapi justru meninggalkan bekas luka emosional yang mendalam bagi anak.
Luka ini sering kali tidak berwujud fisik, tapi dampaknya bisa terbawa hingga mereka dewasa.
Baca juga: DPRD Kabupaten Gorontalo Ketuk Palu LKPJ 2025, Bupati Terima Catatan Strategis
Berikut adalah tiga kebiasaan yang perlu kita evaluasi demi menjaga kesehatan mental anak.
1. Mematikan Rasa melalui Pengabaian Emosional
Banyak orang tua merasa sudah memberikan yang terbaik selama kebutuhan fisik anak terpenuhi.
Padahal, mengabaikan aspek emosional, seperti meremehkan kesedihan anak atau menganggap enteng ketakutan mereka, adalah bentuk luka tak kasat mata.
Baca juga: BMKG: Provinsi Gorontalo Masuk Daftar Potensi Hujan Sepekan ke Depan 28 April - 4 Mei 2026
Dampaknya, saat tumbuh dewasa, anak akan kesulitan mengenali dan mengelola perasaan mereka sendiri karena terbiasa melihat emosinya tidak dihargai.
Untuk mencegah hal ini, mulailah memberikan validasi sederhana.
Kalimat seperti, "Ayah/Ibu paham kalau ini terasa berat buatmu," sudah cukup untuk membuat anak merasa didengar dan berharga.
Baca juga: Inspirasi Ucapan May Day: Berikan Apresiasi untuk Para Pekerja Keras
2. Menghujani Anak dengan Kritik Tajam
Kesalahan adalah bagian alami dari proses tumbuh kembang.
Namun, jika setiap kekeliruan kecil dibalas dengan teguran keras atau kritik yang menjatuhkan, anak akan tumbuh dengan keyakinan bahwa diri mereka tidak pernah cukup baik.
Kritik yang terlalu dominan di masa kecil terbukti meningkatkan sifat menyalahkan diri sendiri saat mereka dewasa.
Pada akhirnya hal ini bisa merusak rasa percaya diri dalam karier maupun hubungan.
Cobalah mengganti amarah dengan solusi. Misalnya, saat anak menumpahkan sesuatu, ajaklah mereka membersihkannya bersama daripada melabeli mereka sebagai anak yang ceroboh.
3. Terjebak dalam Budaya Membandingkan
Membandingkan pencapaian anak dengan saudaranya sering kali niatnya untuk memotivasi, tapi hasilnya justru sebaliknya.
Kalimat perbandingan hanya akan membuat anak merasa identitas mereka ditolak.
Secara psikologis, sering dibanding-bandingkan memicu rendahnya harga diri hingga risiko depresi pada usia remaja.
Alih-alih mencari kemiripan antar saudara, fokuslah pada keunikan dan potensi spesifik yang dimiliki setiap anak.
Dengan menghargai perbedaan, kita membantu mereka membangun kepercayaan diri yang kokoh sesuai jati dirinya masing-masing.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Beautynesia