GORONTALO — Bagi para pencinta literasi, bulan April dan Mei memiliki kedudukan istimewa.
Jika 17 Mei dirayakan sebagai Hari Buku Nasional, tingkat global, masyarakat dunia merayakan World Book and Copyright Day atau Hari Buku dan Hak Cipta Sedunia pada 23 April.
Penetapan tanggal ini oleh UNESCO pada tahun 1995 bukanlah sebuah kebetulan.
Baca juga: Cara Pemkab Gorontalo Antisipasi Musim Kemarau 2026
Ada rangkaian peristiwa besar dan nilai simbolis yang menjadikan 23 April sebagai hari keramat bagi dunia sastra.
Titik Temu Para Maestro Sastra
Alasan utama pemilihan 23 April adalah untuk mengenang kepergian para raksasa literasi yang karya-karyanya melampaui zaman.
Dua nama besar yang menjadi pusat perhatian adalah William Shakespeare dan Miguel de Cervantes.
Baca juga: Provinsi Gorontalo Masuk 10 Daerah dengan Angka Melek Aksara Perempuan Tertinggi di Indonesia
William Shakespeare adalah pujangga legendaris asal Britania Raya ini mengembuskan napas terakhir pada 23 April 1616 di usia 52 tahun.
Penulis mahakarya Hamlet dan Romeo and Juliet ini wafat dengan meninggalkan teka-teki medis, mulai dari demam tinggi hingga isu tipus, yang hingga kini masih diperdebatkan para sejarawan.
Sementara Miguel de Cervantes adalah penulis novel Don Quixote asal Spanyol yang wafat pada kurun waktu yang hampir bersamaan.
Baca juga: Apa Itu Hari Konsumen Nasional? Kenali Sejarah, Tujuan, dan Hak Pembeli
Meskipun tercatat wafat pada 22 April 1616, tradisi pemakamannya sering dikaitkan dengan tanggal 23 April.
Selain mereka, nama besar seperti Inca Garcilaso de la Vega juga menutup usia pada tanggal yang sama.
Keselarasan sejarah ini menjadikan 23 April sebagai momen paling tepat bagi dunia untuk memberikan penghormatan terakhir sekaligus merayakan warisan pemikiran mereka.
Romantisme San Jordi
Jauh sebelum disahkan secara formal oleh UNESCO, tradisi merayakan buku sudah mengakar kuat di Catalunya, Spanyol, sejak tahun 1923. Perayaan ini bermula dari hari San Jordi (Saint George).
Awalnya, masyarakat Catalunya merayakan hari tersebut dengan memberikan mawar merah kepada orang terkasih.
Namun, seiring berjalannya waktu, tradisi ini berevolusi menjadi pertukaran buku.
Para pedagang buku melihat peluang untuk menghormati literasi tepat di hari wafatnya para sastrawan.
Inilah yang menjadi inspirasi bagi UNESCO untuk membawa tradisi lokal Spanyol tersebut ke panggung dunia.
Misi Literasi di Balik Perayaan
Sebelum ketetapan 1995, pada tahun 1992, tim panel yang terdiri dari 100 penulis ternama dari 54 negara sempat berkumpul atas prakarsa Norwegian Book Clubs.
Mereka bertugas memilih karya sastra terbaik sepanjang masa, dan Don Quixote karya Cervantes menempati posisi puncak.
Momen-momen sejarah ini semakin mengukuhkan bahwa buku adalah jembatan pengetahuan antar-generasi.
Perayaan Hari Buku Sedunia bukan hanya soal mengenang kematian penulis besar, tetapi merupakan upaya global untuk:
- Mempromosikan budaya membaca dan menulis.
- Melindungi hak cipta para pencipta karya.
- Menghargai buku sebagai instrumen pendidikan dan perdamaian.
Melalui 23 April, kita diingatkan bahwa meskipun para penulisnya telah tiada, gagasan dan imajinasi mereka tetap hidup di setiap lembaran buku yang kita baca hari ini.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Berbagai Sumber