GORONTALO — Di tengah gempuran teknologi dan dominasi gawai di kalangan generasi muda, Provinsi Gorontalo menyimpan memori kolektif yang berharga dalam bentuk permainan tradisional.
Mengandalkan kreativitas dengan memanfaatkan material alam seperti bambu dan tempurung kelapa, permainan ini bukan sekadar hiburan, melainkan sarana pembentukan karakter dan kebugaran fisik anak-anak di masa lalu.
Berikut adalah ulasan mengenai beberapa permainan tradisional Gorontalo yang keberadaannya kini mulai jarang ditemui.
Baca juga: 5 Cara Mendampingi Korban Kekerasan Seksual dalam Proses Pemulihan
1. Tenggedi
Identifikasi dari para peneliti keolahragaan Universitas Negeri Gorontalo, Hartono Hadjarati dan Arief Ibnu Haryanto, menyoroti dua varian permainan keseimbangan yang unik.
Pertama Tenggedi Buau. Permainan ini menggunakan sepasang tempurung kelapa kering (buau) yang dihubungkan dengan tali.
Pemain berdiri di atas tempurung dan berjalan sembari menarik tali untuk menjaga keseimbangan.
Baca juga: Timnas Indonesia U-17 Gagal ke Semifinal Piala AFF U-17 2026, Runtuhnya Tradisi Podium Sejak 2017
Kecepatan dan koordinasi kaki serta tangan menjadi kunci utama untuk memenangkan perlombaan ini.
Kedua Tenggedi Wawohu. Jika buau menggunakan kelapa, wawohu menggunakan bambu (talilo) tinggi yang dimodifikasi menjadi egrang.
Dengan pijakan kaki yang kuat, permainan ini menuntut keberanian dan kekuatan fisik.
Baca juga: Update BMKG: Potensi Hujan 20 - 23 April 2026, Wilayah Gorontalo Masuk Zona Waspada
2. Palapudu
Sangat populer di kalangan anak laki-laki, Palapudu adalah bentuk kreativitas dalam menciptakan mainan serupa senapan.
Terbuat dari bambu muda, alat ini menggunakan biji-bijian sebagai peluru.
Palapudu melatih fokus, ketepatan sasaran, serta kemampuan koordinasi motorik anak secara menyenangkan.
3. Tengge-Tengge
Dalam bahasa Gorontalo, tengge-tengge berarti jingkat-jingkat.
Meskipun di wilayah lain seperti Jawa dikenal dengan sebutan engklek, Gorontalo memiliki ciri khas tersendiri dengan dua varian utama
Pertama Tengge-Tengge Biasa menggunakan konfigurasi 9 petak yang disusun secara vertikal dan horisontal.
Kedua Tengge-Tengge Tambango. Kata tambango berarti kangkang.
Sesuai namanya, ada posisi pemain harus mendarat dengan kedua kaki secara bersamaan (mengangkang) di petak tertentu, bahkan melakukan putaran tubuh 180 derajat yang membutuhkan tenaga ekstra.
Permainan ini sangat kaya akan manfaat, mulai dari melatih gerak refleks, kelenturan, hingga mengajarkan strategi dan ketaatan pada aturan.
4. Benteng-Benteng
Benteng-benteng dimainkan oleh dua tim beranggotakan 4-8 orang, tujuannya adalah menyentuh markas atau benteng lawan (biasanya pohon atau tiang).
Permainan ini menanamkan nilai solidaritas, kerja sama tim, dan sportivitas yang tinggi melalui aksi kejar-kejaran yang menyehatkan.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Berbagai Sumber