GORONTALO – Sebagai daerah yang memegang teguh falsafah "Adati hula-hula’a to syara’a, wau syara’a hula-hula’a to Kuru’ani", Provinsi Gorontalo memiliki tata cara unik dalam merayakan hari besar keagamaan.
Upacara Adat Hari Besar Islam Gorontalo atau yang disebut Pohutu, merupakan perwujudan nyata bagaimana budaya dan wahyu berjalan beriringan.
Berdasarkan buku Tata Upacara Adat Gorontalo, terdapat 12 tahapan upacara adat utama yang menyertai siklus hari raya Islam, mulai dari bulan Ramadan hingga hari raya kurban.
Baca juga: Pesona dan Filosofi di Balik Ragam Baju Adat Gorontalo, Ensiklopedia Berjalan Nilai-nilai Kehidupan
Daftar 12 Tata Upacara Adat (Pohutu) di Gorontalo
Setiap upacara memiliki protokol dan waktu pelaksanaan yang spesifik, mencerminkan kedalaman spiritual masyarakat Bumi Serambi Madinah.
- Pohutu Bohulio wau Pulitio lo Lamalani (Tonggeyamo): Upacara pembukaan dan penutupan bulan Ramadan.
- Pohutu lo Kuunu: Upacara adat saat doa Qunut di pertengahan Ramadan.
- Pohutu Tuhutio lo Kuru’ani: Peringatan Nuzulul Qur’an pada 17 Ramadan.
- Pohutu lo Lailatulkadari: Upacara menyambut malam Lailatul Qadar pada 27 Ramadan.
- Pohutu lo Iidi: Tata upacara adat menyambut Hari Raya Idulfitri (1 Syawal).
- Pohutu Buka lo Haji: Upacara adat Hari Raya Iduladha (10 Dzulhijjah).
- Pohutu Du’a lo Ulipu: Doa bersama untuk keselamatan dan kemaslahatan negeri.
- Pohutu Maulidu: Tradisi memperingati hari lahir Nabi Muhammad SAW.
- Pohutu Mikiraji: Peringatan Isra Mi'raj Nabi Muhammad SAW.
- Pohutu Asyura: Peringatan hari kemenangan pada 10 Muharram.
- Pohutu Du’a lo Tahun: Doa menyambut tahun baru Hijriah.
- Pohutu lo Malu’udu: Rangkaian zikir dan doa khusus dalam bulan Maulid.
Baca juga: Sinyal Cinta yang Belum Padam: 7 Tanda Mantan Masih Memiliki Perasaan pada Anda
Makna Filosofis: Pengingat Waktu dan Syukur
Penyelenggaraan upacara-upacara ini bukan sekadar rutinitas tahunan. Di dalamnya terkandung pesan moral yang sangat dalam mengenai hakikat kehidupan manusia. Dalam naskah adat disebutkan:
"Waktu yang kita lewati setiap saat tidak akan terulang kembali. Untuk itu kita perlu mengisi waktu-waktu itu dengan amalan yang bermanfaat, baik di dunia maupun di akhirat."
Setiap perayaan adalah momentum untuk mensyukuri nikmat umur yang diberikan oleh Allah SWT.
Tradisi ini juga menjadi media evaluasi diri, terutama saat perayaan Maulid Nabi. Masyarakat diajak merenung apakah ajaran Rasulullah sudah benar-benar terwujud dalam kehidupan sehari-hari atau belum.
Ke-12 upacara adat ini membuktikan bahwa tradisi Islam Gorontalo sangat kaya akan nilai-nilai edukasi karakter.
Dengan menjaga kelestarian Pohutu, masyarakat Gorontalo terus merawat identitasnya sebagai bangsa yang beradab dan religius, memastikan bahwa setiap hari besar Islam memberikan dampak spiritual yang nyata bagi pembangunan daerah.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Buku Tata Upacara Adat Gorontalo