Senin, 23 MARET 2026 • 10:12 WIB

Molunggelo: Seni Menaikkan Bayi ke Buaian dalam Tradisi Luhur Masyarakat Gorontalo

Author

Seorang bayi saat proses molunggelo (Dinas Pendidikan Kebudayaan Pemuda dan Olahraga Gorontalo)

GORONTALO — Bagi masyarakat Provinsi Gorontalo, kelahiran seorang anak disambut dengan deretan ritual adat yang sarat makna. 

Salah satu yang paling ikonik adalah Molunggelo atau mopota’e to lulunggelo. 

Tradisi ini bukan sekadar menidurkan bayi di ayunan, melainkan sebuah pernyataan kasih sayang dan doa yang telah diwariskan turun-temurun.

Baca juga: Membangun Negeri dengan Hati: 25 Sikap Pemimpin Ideal dalam Perspektif Adat Gorontalo

Berikut adalah 5 poin utama untuk memahami kedalaman tradisi Molunggelo.

1. Manifestasi Kasih Sayang dan Perlindungan

Molunggelo secara harfiah berarti menaikkan bayi ke buaian (Lulunggela atau buwe-buwe). 

Secara filosofis, ritual ini melambangkan kewajiban seorang ibu dalam merawat, melindungi, dan memberikan kenyamanan fisik bagi buah hatinya. 

Baca juga: Bukan Sekadar Penutup Meja, Ini 5 Evolusi Menarik Sejarah Taplak Meja

Dahulu, penggunaan ayunan juga berfungsi praktis untuk menjaga bayi agar aman dari gangguan binatang di lantai.

2. Warisan Sastra Lewat Syair Hulango

Tradisi ini dikategorikan sebagai bagian dari sastra lisan Gorontalo. Selama prosesi, seorang Hulango (bidan kampung) akan menuturkan syair-syair suci. 

Syair ini berupa lafalan doa saat bayi dimandikan, saat akan diletakkan di ayunan, hingga saat prosesi menaburkan beras lima warna.

Baca juga: Sering Overthinking? Ini 5 Alasan Mengapa Sikap 'Bodo Amat' Itu Perlu

3. Atribut Adat yang Sarat Makna

Dalam pelaksanaannya, Molunggelo menggunakan berbagai perangkat adat yang masing-masing memiliki nilai kepercayaan tertentu. 

Selain Lulunggela sebagai alat utama, terdapat atribut lain seperti:

  • Hulante, Tohe tutu, dan Yilonta.
  • Pale yilulo (beras kuning) dan Bulowe.
  • Bu’awu ta uliyo, Eluto, hingga Polutube.

4. Nilai Keislaman yang Kental

Meskipun merupakan tradisi kuno, Molunggelo pada masyarakat Gorontalo memiliki napas keislaman yang sangat kuat. 

Prosesi ini melibatkan pembacaan doa-doa keselamatan dan harapan agar sang anak tumbuh menjadi pribadi yang saleh dan berguna bagi sesama, sejalan dengan nilai-nilai tauhid.

5. Kolaborasi Sosial dalam Ritual

Ritual ini tidak dilakukan sendirian, melainkan melibatkan elemen penting masyarakat.

  • Hulango: Pemimpin prosesi dan penutur doa.
  • Khatibi (Imam): Pemberi berkah secara religius.
  • Kerabat Ibu: Simbol dukungan keluarga besar.
  • Ibu Paruh Baya yang Sukses: Dihadirkan sebagai sosok teladan dengan harapan sang bayi kelak akan mengikuti jejak keberhasilan dan kebahagiaan sosok tersebut.

Molunggelo adalah bukti nyata betapa masyarakat Gorontalo sangat memuliakan fase awal kehidupan manusia. 

Tradisi ini menyatukan aspek keamanan fisik, bimbingan spiritual, dan harapan kolektif keluarga dalam satu harmoni budaya.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Berbagai Sumber

Author
TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU