GORONTALO — Taplak meja mungkin terlihat seperti pelengkap furnitur biasa.
Namun, di balik kain yang mempercantik ruang makan Anda, tersimpan perjalanan budaya yang sangat panjang.
Berikut adalah 5 fakta menarik tentang asal-usul dan perkembangan taplak meja.
Baca juga: Sering Overthinking? Ini 5 Alasan Mengapa Sikap 'Bodo Amat' Itu Perlu
1. Pelindung Furnitur Mewah di Zaman Romawi
Sejak era Romawi Kuno, taplak meja sudah digunakan oleh kaum elite.
Fungsi utamanya saat itu adalah melindungi meja kayu yang harganya sangat mahal dari noda makanan dan minuman.
Selain itu, penggunaan taplak juga menjadi standar etiket bagi tuan rumah dalam menyambut tamu kehormatan.
Baca juga: Lebih dari Sekadar Hobi, Ini 4 Indikator Psikologis Seseorang yang Mencintai Hujan
2. Indikator Kasta di Abad Pertengahan
Pada masa ini, taplak meja bukan lagi sekadar pelindung, melainkan simbol derajat seseorang.
Semakin halus bahan kainnya dan semakin putih warnanya, maka semakin tinggi pula status sosial pemiliknya.
Taplak meja yang putih bersih melambangkan kekayaan karena biaya perawatannya yang mahal di masa itu.
3. Berfungsi Sebagai "Serbet Raksasa"
Fakta unik dari sejarah taplak meja adalah fungsinya yang pernah menjadi penyeka tangan dan mulut kolektif.
Sebelum penggunaan serbet individu (napkin) menjadi standar etiket makan, para tamu di zaman dulu sering menggunakan pinggiran taplak meja untuk membersihkan tangan mereka saat perjamuan berlangsung.
4. Revolusi Bahan Pasca-Industri
Dulu, taplak meja hanya terbuat dari linen atau sutra mahal yang disulam dengan tangan.
Namun, seiring munculnya Revolusi Industri, produksi kain menjadi lebih masal.
Bahan-bahan baru seperti katun, renda, hingga plastik (vinil) mulai diperkenalkan, sehingga benda ini bisa dimiliki oleh semua kalangan masyarakat.
5. Elemen Estetika dan Penghormatan di Era Modern
Di masa kini, taplak meja menjadi bagian integral dari dekorasi interior.
Selain melindungi meja dari goresan, pemilihan warna dan motif taplak dianggap sebagai cara tuan rumah menciptakan suasana tertentu, mulai dari formal hingga santai, serta sebagai bentuk penghormatan terhadap tamu yang berkunjung.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Viva Gorontalo