GORONTALO — Masyarakat Provinsi Gorontalo memiliki cara yang sangat ikonik dalam menyambut hari kemenangan.
Tradisi tersebut dikenal dengan nama Tumbilotohe, sebuah festival cahaya tradisional yang telah menjadi identitas budaya turun-temurun.
Tradisi ini bukan sekadar perayaan visual, melainkan simbol kesiapan batin masyarakat muslim dalam menjemput malam Idulfitri.
Baca juga: Waspada! 3 Bentuk Kontrol Pasangan yang Sering Dikira Tanda Perhatian
Filosofi dan Makna Bahasa
Secara etimologi, Tumbilotohe berasal dari bahasa lokal, yaitu tumbilo yang berarti menyalakan dan tohe yang berarti lampu.
Maka, Tumbilotohe dapat dimaknai sebagai ritual menyalakan lampu.
Pada awalnya, tradisi ini berfungsi praktis sebagai alat penerangan bagi warga yang hendak menuju masjid untuk beribadah di malam-malam terakhir bulan suci.
Tumbilotohe biasanya digelar selama tiga malam berturut-turut dan mencapai puncaknya tepat pada malam takbiran.
Evolusi Cahaya dari Abad ke-15
Sejarah mencatat bahwa tradisi ini telah eksis sejak abad ke-15 atau ke-16. Seiring berjalannya waktu, media penerangan yang digunakan terus mengalami transformasi
Di masa awal menggunakan wamuta (seludang kelapa) yang dihaluskan, diruncingkan, lalu dibakar.
Baca juga: Persiapan Penas XVII, Bupati Gorontalo Resmikan Zona Khas Foodcourt Limboto Bareng BI
Kemudian di masa transisi menggunakan tohetutu atau lampu asli yang terbuat dari damar dan dibungkus daun woka.
Di era modern beralih menggunakan minyak tanah (lampu botol), dan kini kerap dipadukan dengan ribuan lampu listrik atau kelap-kelip untuk menambah kemeriahan.
Nilai Spiritual dan Sosial
Tumbilotohe adalah perayaan lintas kelas. Mulai dari pejabat seperti Gubernur dan Bupati hingga masyarakat umum, semuanya serentak menyalakan lampu di halaman rumah masing-masing.
Di balik benderangnya cahaya tersebut, tersirat nilai-nilai yang mendalam
- Penyucian Jiwa: Ekspresi rasa syukur dan pembersihan diri setelah sebulan penuh berpuasa.
- Nilai Fitrah: Simbol kembalinya manusia ke keadaan suci.
- Kesadaran Komunal: Menguatkan rasa persaudaraan sebagai satu keturunan dan satu umat.
Atribut Adat yang Khas
Keindahan Tumbilotohe semakin lengkap dengan penggunaan berbagai atribut tradisional yang diambil dari kekayaan alam sekitar, antara lain:
- Alikusu: Gapura adat yang dihiasi dengan tanaman simbolis seperti tebu dan janur.
- Padamala: Lampu berbahan dasar minyak kelapa.
- Tonggolo’opo: Lampion tradisional yang menambah estetika malam hari.
Daya pikat magis dari ribuan titik api yang menerangi seluruh sudut kota menjadikan Tumbilotohe sebagai magnet wisata yang luar biasa.
Setiap tahun, ribuan pelancong datang ke Gorontalo hanya untuk menyaksikan langsung fenomena negeri sejuta lampu ini.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Berbagai Sumber