GORONTALO — Banyak orang terjebak dalam hubungan yang tidak sehat karena tidak mampu membedakan mana kepedulian yang tulus dan mana kontrol yang manipulatif.
Sering kali, perilaku yang merugikan mental dibungkus sedemikian rupa dengan alasan demi kebaikanmu atau bukti cinta.
Agar kamu tidak terjebak dalam hubungan toksik, berikut adalah 3 tanda kekerasan emosional (abuse) yang kerap disalahartikan sebagai bentuk perhatian.
1. Kritik Berkedok "Masukan Membangun"
Pernahkah pasanganmu terus-menerus mengomentari cara berpakaianmu, apa yang kamu makan, atau bagaimana kamu bersikap?
Jika komentar tersebut membuatmu merasa tidak percaya diri atau selalu merasa "salah", itu bukanlah perhatian.
Kritik yang konstan terhadap hal-hal personal merupakan taktik untuk meruntuhkan harga dirimu secara perlahan. Tujuannya adalah membuatmu merasa tidak mampu mengambil keputusan sendiri tanpa persetujuan dari mereka.
Baca juga: Persiapan Penas XVII, Bupati Gorontalo Resmikan Zona Khas Foodcourt Limboto Bareng BI
2. Obsesi Mengetahui Privasi dan Kata Sandi
Dalam hubungan yang sehat, kepercayaan dibangun di atas rasa saling menghargai privasi, bukan dengan menyerahkan semua akses digital.
Menuntut password media sosial atau ponsel bukan bukti keterbukaan, melainkan bentuk pengawasan (monitoring).
Akses penuh terhadap akun pribadimu memberikan celah bagi pasangan untuk melakukan kontrol digital.
Baca juga: Perkuat Solidaritas, Golkar Kabupaten Gorontalo Santuni Ratusan Anak Panti saat Buka Bersama
Ingatlah bahwa privasi adalah hak dasar setiap individu; mencintai seseorang bukan berarti kamu kehilangan hak untuk memiliki ruang pribadi.
3. Merendahkanmu di Depan Orang Lain melalui Candaan
Salah satu bentuk agresi verbal yang paling halus adalah menceritakan kekurangan atau kesalahanmu di depan teman atau keluarga, lalu mengakhirinya dengan tawa.
Saat kamu merasa keberatan, mereka mungkin akan membela diri dengan kalimat, "Cuma bercanda, kok baper banget?"
Menghina pasangan di depan umum adalah upaya untuk merusak citra sosialmu. Tindakan ini bertujuan agar kamu merasa kecil dan minder, sehingga mereka memiliki posisi tawar yang lebih kuat dalam hubungan tersebut.
Cinta yang sehat seharusnya memberdayakan, bukan membatasi.
Jika perhatian yang diberikan justru membuatmu merasa terkekang, malu, atau kehilangan jati diri, maka itu adalah alarm bagi kesehatan mentalmu.
Beranilah untuk menetapkan batasan (boundaries) demi kebahagiaanmu sendiri.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Beautynesia