Kamis, 19 FEBRUARI 2026 • 12:31 WIB

Sisi Lain Ramadan 2025: Mengapa Angka Kecemasan Justru Meningkat di Bulan Suci?

Author

Kecemasan banyak melanda orang Indonesia pada Ramadan 2025 (Istimewa)

GORONTALORamadan sering kali dipersepsikan sebagai bulan penuh ketenangan, ruang untuk refleksi diri, serta momen mempererat kebersamaan. 

Namun, di balik nuansa spiritual yang kental, data terbaru justru menunjukkan fakta yang kontras. 

Berdasarkan laporan internal Halodoc, terjadi tren kenaikan jumlah konsultasi terkait gangguan kecemasan di sepanjang Ramadan 2025.

Baca juga: Doa Buka Puasa yang Shahih Beserta Artinya: Panduan Lengkap dan Keutamaannya

Peningkatan ini terjadi secara bertahap mulai dari 17% pada minggu pertama, hingga mencapai puncaknya di minggu ketiga dengan kenaikan sebesar 27%. 

Fenomena ini mengindikasikan bahwa beban psikologis masyarakat tidak hanya muncul di fase awal adaptasi, melainkan menumpuk menjadi tekanan emosional akibat kelelahan fisik, intensitas aktivitas sosial, hingga beban ekonomi menjelang Lebaran.

Akar Masalah: Mengapa Masyarakat Cemas?

Laporan yang menganalisis jutaan interaksi layanan kesehatan ini memetakan lima faktor utama pemicu stres selama bulan puasa.

Baca juga: Kenapa Awal Puasa Ramadan Selalu Maju Setiap Tahun? Ini Penjelasan Ilmiahnya

Konflik Internal Keluarga (58%)

Faktor ini menjadi penyebab paling dominan. Interaksi yang lebih intens selama Ramadan, seperti momen buka bersama atau sahur, ternyata rentan memicu perbedaan pandangan dan ekspektasi sosial yang berujung pada tekanan mental.

Luka Emosional Masa Lalu (16%)

Suasana Ramadan yang sarat akan introspeksi sering kali memicu kembali trauma personal atau memori tentang relasi yang belum pulih.

Perubahan Pola Hidup (11%)

Pergeseran jam tidur yang drastis, pola makan yang berubah, serta tuntutan untuk memaksimalkan ibadah di tengah aktivitas harian berkontribusi pada kelelahan psikis.

Baca juga: Potret Pendidikan Indonesia 2025: Dominasi Lulusan SMA dan Tantangan Gelar Sarjana

Tekanan Ekonomi (10%)

Meningkatnya kebutuhan rumah tangga, biaya operasional berbuka puasa, hingga persiapan anggaran Idulfitri menjadi beban tersendiri bagi sebagian kepala keluarga.

Rasa Kesepian (5%)

Bagi mereka yang merantau atau kehilangan dukungan sosial, Ramadan justru mempertegas perasaan terisolasi di tengah keramaian.

Tentang Laporan Ini

Data ini diambil dari analisis mendalam selama 18 minggu, mencakup periode sebelum hingga sesudah Ramadan, dengan fokus pada pasien berusia di atas 12 tahun di seluruh Indonesia. 

Analisis ini mencakup konsultasi dokter, pembelian produk kesehatan, hingga layanan homecare.

Laporan ini menjadi pengingat penting bahwa menjaga kesehatan mental di bulan Ramadan sama pentingnya dengan menjaga kesehatan fisik dan spiritual.

Keseimbangan antara ekspektasi sosial dan kapasitas emosional menjadi kunci agar ibadah dapat dijalankan dengan lebih tenang.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Halodoc, Goodstats

Author
TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU