Kamis, 08 JANUARI 2026 • 08:18 WIB

5 Tradisi Menyambut Ramadan di Gorontalo: Dari Ritual Doa hingga Aroma Rempah Langgilo

Author

Tonggeyamo, salah satu tradisi yang dilakukan masyarakat Gorontalo jelang bulan Ramadan (Humas Pemprov Gorontalo)

GORONTALO – Tidak lama lagi umat muslim di dunia akan menyambut bulan suci Ramadan. 

Ada berbagai tradisi yang dilakukan masyarakat dalam menyambut bulan Ramadan, termasuk di Provinsi Gorontalo.

Bagi masyarakat Gorontalo, datangnya bulan suci Ramadan bukan sekadar pergantian kalender hijriah.

Baca juga: 5 Kalimat yang Menunjukkan Ketenangan Batin Seseorang

Di daerah berjuluk Bumi Serambi Madinah ini, bulan Ramadan disambut dengan rangkaian ritual yang memadukan kedalaman spiritualitas Islam dengan kehangatan kearifan lokal. 

Tradisi-tradisi ini menjadi jembatan antara rasa syukur kepada Sang Pencipta dan penghormatan kepada para leluhur.

Berikut adalah potret keunikan tradisi masyarakat Gorontalo dalam menjemput bulan mulia.

Baca juga: Ada Gorontalo, Ini 10 Provinsi dengan Tingkat Kegemaran Membaca Paling Rendah Menurut BPS

1. Mongaruwa

Sebagai pembuka, warga biasanya menggelar Mongaruwa atau doa arwah. Ini adalah momen sakral yang sulit dilewatkan menjelang Ramadan.

Mongaruwa dilakukan sebagai sarana mendoakan anggota keluarga yang telah berpulang agar mendapatkan tempat terbaik di sisi Allah SWT. 

Tradisi ini mempererat ikatan kekeluargaan melalui doa bersama atau tahlilan yang dipimpin oleh seorang imam atau dalam bahasa Gorontalo disebut ti imamu.

Baca juga: 5 Ritual Me Time Paling Ampuh untuk Introvert Kembali Segar

Mongaruwa tak sekadar duduk bersila sembari mendoakan keluarga yang berpulang lebih dulu. 

Tak lengkap rasanya Mongaruwa tanpa hidangan khas, yakni nasi kuning, pisang, dan tiliaya, panganan manis nan legit dari telur dan gula aren yang menjadi simbol kemanisan ibadah yang akan dijalani.

2. Langgilo

Jika raga bersiap, maka sarana ibadah pun tak luput dari perhatian. Ada namanya tradisi Langgilo atau ritual mencuci perlengkapan salat menggunakan air rebusan rempah. 

Baca juga: 6 Ritual Pagi Mahal ala Pakar agar Tahun 2026 Lebih Produktif, Salah Satunya Tunda Minum Kopi

Ramuan alami yang terdiri dari daun pandan, sereh wangi, nilam, dan daun kunyit ini memberikan aroma terapi yang menenangkan, membuat suasana sujud di masjid terasa lebih khusyuk dan segar.

3. Mohimelu

Ramadan harus disambut dengan kegembiraan, dan itulah makna dari Mohimelu. Mohikelu adalah bahasa Gorontalo yang berarti menyapa atau menyambut. Kata dasarnya Himelu.

Pada malam pertama yang disebut Huwi lo Himelu, keluarga-keluarga di Gorontalo merayakannya dengan menyembelih ayam untuk santap sahur perdana. 

Di wilayah pedesaan, kemeriahan ini terasa lebih hangat dengan aksi saling berbagi ayam kepada kerabat, sehingga jalanan desa sering terlihat ramai oleh warga yang membawa ayam menjelang hari pertama puasa.

4. Bacoho

Bukan sekadar keramas biasa, Bacoho adalah tradisi membersihkan diri menggunakan sampo alami dari racikan dedaunan wangi. 

Bahan-bahan seperti kelapa parut, kulit jeruk, dan daun nilam dicincang lalu dibakar dengan bara tempurung kelapa untuk mengeluarkan minyak dan aroma esensialnya. 

Bacoho dimaknai sebagai simbol kesucian fisik sebelum memasuki bulan yang penuh rahmat.

5. Tonggeyamo

Tonggeyamo itu sama dengan sidang isbat berbalut adat. Sebagai penentu dimulainya ibadah puasa, dilakukanlah Tonggeyamo. 

Digelar di rumah dinas atau Yiladia lo Dulohupa, para pemimpin daerah dan pemangku adat berkumpul mengenakan pakaian adat Gorontalo untuk menetapkan awal Ramadan secara resmi bagi masyarakat setempat.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Berbagai Sumber

Author
TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU