Dari Tukar Badge hingga Cinlok, Ini 5 Tradisi di Pramuka yang Bisa Dilakukan Jelang Penutupan Peran Saka Nasional 2025
GORONTALO – Kegiatan Peran Saka Nasional 2025 di Provinsi Gorontalo sebentar lagi akan ditutup.
Upacara penutupan akan berlangsung di Bumi Perkemahan Bongohulawa, Rabu sore, 8 November 2025.
Malamnya, akan ada malam Bhineka Tunggal Ika, dan konser musik.
Baca juga: 'Melukis' Nusantara Lewat Karnaval Budaya dan Festival Kuliner Peran Saka Nasional 2025
Selain suasana haru yang mulai terasa, ada lima tradisi unik Pramuka yang pasti muncul jelang perpisahan, termasuk di kegiatan Peran Saka Nasional tahun ini.
Lima tradisi unik ini menjadi penanda kuatnya ikatan persaudaraan yang terjalin lintas pulau selama kegiatan.
Tradisi-tradisi ini juga membuktikan bahwa nilai persaudaraan, persatuan, dan keikhlasan adalah capaian terbesar dari kegiatan sekelas Peran Saka Nasional.
Baca juga: Wamenhan Puji Antusiasme Peserta Peran Saka: Tadi Banyak yang Nanya, tapi Waktu Gak Cukup
1. Tradisi Tukar Badge
Ini adalah momen ketika badge dan tanda tangan, dicari untuk kenang-kenangan. Peserta akan saling bertukar badge dan tanda tangan lalu menjadikannya ibarat sertifikat persahabatan yang paling berharga.
2. Upacara Bongkar Tenda dan Foto Perpisahan
Sebelum benar-benar dibongkar, tenda yang selama seminggu menjadi rumah dan simbol identitas kontingen akan diabadikan dalam sesi foto kelompok besar. Pembongkaran tenda dilakukan dengan penuh perasaan. Pada momen ini, tak jarang peserta akan saling bergotong royong.
3. Sesi Curhat Lintas Provinsi dan Fenomena Cinlok
Malam terakhir selalu menjadi malam terpanjang. Kegiatan sering diisi dengan sesi curhat dan pengakuan, yang tak jarang memunculkan benih-benih cinta lokasi (cinlok).
Selain berbagi cerita tentang cita-cita, momen ini digunakan peserta untuk mengungkapkan perpisahan atau janji tetap berkomunikasi meskipun terpisah jarak ribuan kilometer.
4. Tukar Kontak dan Janji Kunjungan Lintas Pulau
Di era modern, tukar kontak dan media sosial adalah keharusan. Namun, tradisi yang lebih mendalam adalah janji untuk saling mengunjungi.
Banyak peserta akan berjanji, "Nanti kalau kamu ke sini kabarin, ya," atau "Kalau kamu ke sini harus menginap di rumahku ya!".
Janji ini, meskipun mungkin sulit direalisasikan, merupakan manifestasi paling tulus dari ikatan persaudaraan baru yang terbentuk di perkemahan.
5. Pemberian Hadiah Sederhana, tapi Tulus
Di akhir kemah, tradisi bertukar atau membagikan hadiah-hadiah kecil yang tersisa, seperti gelang sederhana, pin, atau surat tulisan tangan sangat berkesan.
Hadiah perpisahan ini bersifat personal dan non-material. Itu menunjukkan bahwa si pemberi telah mengingat teman barunya selama seminggu penuh dan ingin meninggalkan kenangan yang paling tulus sebelum kembali ke pulau asalnya.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Berbagai Sumber