Selasa, 04 NOVEMBER 2025 • 14:30 WIB

Kunjungan Pertama Soekarno ke Gorontalo Bulan November 1951 Diwarnai Protes dan Penangkapan

Author

Soekarno menyampaikan pidato dalam rapat raksasa saat kunjungan pertamanya ke Gorontalo (Koleksi keluarga Kepala Daerah Sulawesi Utara, Syam Biya)

GORONTALO – Presiden Republik Indonesia pertama, Soekarno, pertama kali menginjakkan kakinya ke Gorontalo pada bulan November 1951.

Kunjungan Soekarno ke Gorontalo merupakan bagian dari upaya tour 11 hari ke 11 daerah di Samudra Timur untuk memperkuat persatuan bangsa di tengah sejumlah gejolak regional pasca-kemerdekaan.

Kedatangan Soekarno disambut antusiasme luar biasa dari ratusan warga pada Selasa, 20 November 1951. 

Baca juga: Mengintip Serunya Anggota Saka Widya Budaya Bakti Bikin Kue Dumalo di Peran Saka Nasional 2025

Meski sempat tertunda karena masalah kesehatan, pesawat Catalina Amboina yang ditumpangi Soekarno akhirnya berhasil mendarat di Danau Limboto, Desa Iluta.

Masyarakat setempat, dari sekitar Teluk Tomini, memadati pesisir danau.

Mereka bahkan rela berdiri di atas perahu-perahu, mengibarkan bendera Merah Putih menyambut kedatangan putra sang fajar.

Baca juga: Tampil di Jumpa Tokoh Peran Saka Nasional, Rachmat Gobel Beri Tips Jadi Pengusaha hingga TV ke Peserta

Kunjungan ini memiliki makna khusus karena Gorontalo dikenal sebagai lokasi revolusi damai 23 Januari 1942 yang diprakarsai sahabat Soekarno, Nani Wartabone.

Rapat Raksasa dan Protes Isu Diskriminasi

Dari Danau Limboto, Soekarno diarak menggunakan mobil jip menuju pusat kota. 

Setibanya di sana, Soekarno langsung memimpin Rapat Raksasa di alun-alun kota (kini Lapangan Taruna Remaja).

Baca juga: Pesan Nova Arianto ke Timnas Indonesia U-17 Jelang Lawan Zambia U-17: Postur Boleh Kalah, tapi Mental Jangan

Dalam pertemuan tersebut, pidato Soekarno mendapat respons tak terduga berupa protes dari komunitas Arab di Gorontalo. 

Protes ini diduga dipicu oleh rencana Kementerian Dalam Negeri saat itu mengenai pendaftaran warga negara keturunan asing pada tahun 1951.

Langkah itu dikhawatirkan warga keturunan Arab dan Tionghoa sebagai bentuk diskriminasi rasial.

Menanggapi protes tersebut, Soekarno memberikan penegasan kuat mengenai konstitusi negara.

“Tidak ada diskriminasi rasial di Indonesia, begitu pula diskriminasi terhadap perempuan juga tidak boleh dilakukan. Konstitusi Indonesia mengizinkan perempuan menjadi Presiden dan memegang jabatan publik,” kata Soekarno menanggapi protes.

Insiden Listrik Padam dan Pesan Keadilan Sosial

Malam harinya, Soekarno menghadiri malam kesenian di kediaman Residen Koordinator Nani Wartabone (kini rumah dinas Wali Kota Gorontalo). 

Acara sempat diwarnai kepanikan ketika listrik tiba-tiba padam saat tarian adat Tidi Lo Polopalo dipersembahkan.

Meskipun Soekarno menanggapinya dengan santai, insiden tersebut berujung pada penangkapan Kepala PENUPETEL (sekarang PLN) yang dicurigai melakukan sabotase.

Kunjungan ditutup pada hari berikutnya, Rabu, 21 November 1951, dengan rapat umum di gedung bioskop Ideal. 

Soekarno menyampaikan pesan penutup yang sangat berkesan bagi rakyat.

Mengutip laporan berita Nieuwsgier yang dirangkum BPCB Gorontalo, Soekarno menyerukan semangat persatuan.

“Persatuan Indonesia dan Negara nasional yang tidak hanya mengenal kemakmuran tetapi juga keadilan sosial: negara adil makmur. Indonesia atau lebih tepatnya orang Indonesia harus menjaga kemakmuran sendiri. Kerja, kerja, kerja adalah semboyan. Negara akan memastikan distribusi yang adil dari hasil kerja ini!”

Usai menyampaikan pidato tersebut, Presiden Soekarno meninggalkan Gorontalo menuju Poso, Sulawesi Tengah, mengakhiri lawatan pentingnya ke Samudra Timur.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Buku Digital BPCB Gorontalo

Author
TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU