GORONTALO - Pagi yang panas tak menghalangi semangat Haris, seorang penjual sayur keliling, menelusuri gang demi gang sambil membunyikan klakson motor modifikasinya.
Namun, ada yang bikin sayuran di gerobaknya beda dari yang lain. Ternyata semuanya hasil tangan warga binaan Lapas Kelas IIB Pohuwato.
Cerita ini bukan cuma soal jual beli sayur, tapi soal harapan, kerja sama, dan semangat bangkit dari balik tembok penjara.
Baca juga: BKKBN Gandeng Mitra Internasional Cegah Stunting di Gorontalo
Yuk, simak empat hal menarik dari kisah Haris dan Lapas Pohuwato berikut ini:
Dari Lapas ke Rumah Warga
Haris, pria dengan senyum ramah, jadi jembatan antara hasil pertanian warga binaan dan kebutuhan dapur warga.
Setiap pagi, Haris menjemput hasil panen langsung dari Lapas Pohuwato dan menjajakannya ke rumah-rumah. Tak disangka, dagangannya makin laris!
"Sayurannya segar, harga terjangkau, pembeli pun senang karena kualitasnya bagus. Saya juga senang karena bisa ikut membantu warga binaan agar hasil kerja mereka tidak sia-sia," kata Haris.
Penjual Sayur Jadi Mitra Strategis Lapas Pohuwato
Menurut Kepala Lapas Pohuwato, Tristiantoro Adi Wibowo, kolaborasi dengan penjual keliling seperti Haris adalah bagian dari strategi cerdas agar hasil pertanian tidak hanya dinikmati di dalam lapas.
Hasilnya? Sayur segar sampai ke dapur warga, dan warga binaan dapat pengakuan atas hasil kerja keras mereka.
"Dengan adanya penjual keliling seperti Pak Haris, distribusi jadi lebih merata sampai ke rumah warga. Ini juga membantu membangun citra positif warga binaan di tengah masyarakat," kata Tristiantoro.
Baca juga: 10 Fakta Menarik Tentang Iptu Dr. Iswan Brandes: dari 13 Gelar, IPK 4.0, hingga Wisudawan Terbaik
Warga Binaan Bertani Bukan Sekadar Isi Waktu di Lapas
Lapas Pohuwato membuka program pertanian produktif sebagai bentuk pembinaan kemandirian.
Di atas lahan yang cukup luas, warga binaan diajari cara menanam, merawat, dan memanen sayuran.
Dengan ini, mereka diharapkan bisa mandiri setelah bebas nanti. Bukan hanya kerja keras, tapi juga harapan untuk masa depan yang lebih baik.
"Melalui program pertanian ini, kami ingin membuktikan bahwa di balik jeruji besi, warga binaan juga bisa berkontribusi nyata," ujar Tristiantoro.
Sayurannya Lengkap, Kualitasnya Juara
BUkan cuma kangkung dan bayam. Dari kebun Lapas Pohuwato, lahir juga sawi, kacang panjang, tomat, cabai, dan masih banyak lagi. Komoditasnya terus dikembangkan.
Program ini bukan cuma soal pertanian, tapi jadi bukti nyata bagaimana sinergi antara lapas, warga binaan, dan masyarakat bisa membawa manfaat bagi semua pihak.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Humas Lapas Pohuwato