Sering bilang terserah bisa menghilangkan jati diri seseorang (Indozone Gorontalo)
GORONTALO — Dalam interaksi sosial, kata "terserah" sering kali dianggap sebagai jalur aman untuk menunjukkan sikap fleksibel atau menghindari perdebatan.
Namun, di balik lima huruf sederhana tersebut, tersimpan risiko psikologis yang perlahan bisa membuat sosok asli dirimu memudar.
Jika kata ini sudah menjadi respons otomatis, kamu mungkin sedang terjebak dalam upaya menyenangkan orang lain yang mengorbankan identitas pribadimu.
Baca juga: Bayar Pajak Kini Lebih Dekat, Pemprov Gorontalo Operasikan Gerai Samsat Mobile dan GIIS
Secara psikologis, terus-menerus menyerahkan kendali keputusan kepada orang lain dapat memicu kondisi yang disebut kehilangan agensi diri.
Berikut adalah alasan mengapa kebiasaan ini berbahaya:
Ketika kamu berhenti memilih, otakmu perlahan lupa cara mengenali apa yang sebenarnya kamu sukai atau butuhkan.
Baca juga: Produksi Emas Pani Gold Mulai Perkuat Kas Daerah Gorontalo
Hubungan yang sehat membutuhkan dinamika dua arah.
Terus-menerus membebani orang lain untuk mengambil keputusan bisa menciptakan ketegangan dan rasa lelah bagi mereka.
Menekan keinginan pribadi demi harmoni semu sering kali menimbun kekecewaan yang sewaktu-waktu bisa meledak sebagai kemarahan atau depresi.
Baca juga: Amankan May Day 2026, Brimob Polda Gorontalo Intensifkan Latihan PHH dan Anti Anarkis
anpa opini yang jelas, kamu akan kesulitan menetapkan batasan (boundaries) yang sehat dalam pekerjaan maupun hubungan pribadi.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Beautynesia