Ilustrasi sampah makanan (Istimewa)
GORONTALO — Indonesia saat ini tengah menghadapi tantangan besar terkait manajemen limbah nasional.
Berdasarkan catatan Bank Dunia, posisi Indonesia sebagai salah satu penghasil sampah terbesar di dunia mencerminkan tingginya pola konsumsi masyarakat yang belum diimbangi dengan sistem pengelolaan yang optimal.
Sepanjang tahun 2025, total timbulan sampah nasional tercatat mencapai 25,14 juta ton.
Baca juga: 5 Aktivitas Bermanfaat yang Bisa Dilakukan Setelah Sahur
Data yang dihimpun dari 244 kabupaten/kota melalui Sistem Informasi Pengelolaan Sampah Nasional (SIPSN) KLHK ini menunjukkan bahwa mayoritas sampah berasal dari aktivitas rumah tangga, yakni sebesar 56,7%.
Berdasarkan data SIPSN KLHK tahun 2025, sisa makanan mendominasi tumpukan sampah di Indonesia dengan persentase yang sangat mencolok dibandingkan jenis limbah lainnya:
Baca juga: Kasus Campak di Indonesia Tinggi, Ini 5 Provinsi dengan Suspek Terbanyak
Tingginya angka food waste (sampah makanan) bukan sekadar masalah estetika lingkungan, melainkan ancaman bagi iklim global.
Indonesia diperkirakan menyumbang sekitar 48 juta ton sisa makanan setiap tahunnya. Dampaknya, setiap satu piring nasi yang terbuang setara dengan emisi gas beracun sebesar 150 gram.
Secara global, limbah makanan berkontribusi terhadap 8% emisi gas rumah kaca akibat pembusukan yang menghasilkan gas metana.
Baca juga: Pemerintah Kota Gorontalo Ultimatum SPPG: Tidak Boleh Lalai
Gas ini memiliki efek yang jauh lebih kuat dalam memicu pemanasan global dibandingkan karbon dioksida.
Minimnya pemahaman masyarakat mengenai pemanfaatan pangan serta perilaku konsumtif menjadi pemicu utama tingginya limbah rumah tangga.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Goodstats