GORONTALO — Semarak perayaan Imlek selalu menjadi momen refleksi tentang ketangguhan dan kontribusi besar komunitas Tionghoa bagi kemajuan bangsa.
Di balik merahnya lampion Imlek yang menghiasi sudut kota, tersembunyi sebuah narasi sejarah yang luar biasa.
Gorontalo menjadi laboratorium yang menciptakan tokoh-tokoh besar di panggung ekonomi, politik, hingga akademisi nasional.
Baca juga: Klenteng Tulus Harapan Kita: Klenteng Bersejarah Hasil Kongko-kongko Imigran China di Gorontalo
Tanah Gorontalo bukan sekadar tempat singgah bagi para imigran, melainkan kawah candradimuka yang menempa karakter mereka dengan etos kerja keras yang khas.
Dalam tradisi Tionghoa, kesuksesan sering kali dianggap sebagai buah dari kegigihan melewati masa sulit. Hal inilah yang dialami oleh Ciputra (Tjie Tjin Hoan), sang raja properti Indonesia.
Masa kecil hingga remaja Ciputra dihabiskan di Gorontalo dengan mencicipi pahitnya kehidupan dari bawah.
Baca juga: Pelajaran Berharga Garuda Muda: Nova Arianto Bedah Evaluasi Usai Digulung Tiongkok 0-7
Pengalamannya ditempa alam Gorontalo menjadikannya sosok visioner dengan akumulasi kekayaan mencapai Rp18,3 triliun pada 2018.
Baginya, Gorontalo adalah batu loncatan utama yang memberinya energi untuk terbang tinggi dan mencapai puncak kejayaan.
Jejak intelektualitas anak daerah Gorontalo terekam kuat dalam sejarah pemerintahan Indonesia.
Ong Eng Die, Menteri Keuangan legendaris di era Presiden Soekarno, lahir di Gorontalo pada 20 Juni 1910.
Sosok peraih gelar Doktor dari Universitas Amsterdam ini adalah orang yang menandatangani uang satu rupiah pada tahun 1954.
Baca juga: Tempat Itikaf di Limboto: Masjid yang Cocok untuk Ibadah Malam Sepanjang Ramadan
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Tulisan Funco Tanipu