Ilustrasi hujan bikin mager (Istimewa)
GORONTALO – Pernahkah Anda merasa energi tubuh seolah terkuras habis begitu langit berubah mendung atau pas turun hujan? Seringkali kita menyalahkan diri sendiri dan melabeli hal tersebut sebagai rasa malas.
Namun, keinginan kuat untuk menarik selimut dan kembali tidur saat hujan turun sebenarnya bukan sekadar masalah kedisiplinan, melainkan respons biologis murni dari tubuh manusia.
Tubuh kita memiliki mekanisme canggih yang bereaksi terhadap perubahan cuaca.
Berikut ini tiga faktor ilmiah mengapa hujan memiliki kekuatan hipnotis yang membuat kita sulit beranjak dari kasur.
Tubuh manusia bekerja layaknya mesin waktu yang diatur oleh cahaya matahari, dikenal sebagai ritme sirkadian. Saat cahaya terang, tubuh mengirim sinyal untuk bangun dan bekerja.
Sebaliknya, saat hujan turun dan langit tertutup awan gelap, intensitas cahaya matahari menurun drastis.
Baca juga: Jadwal Pertandingan Baru Timnas Indonesia U-23 di SEA Games 2025, Lawan Kuat Cabut ke Grup Sebelah
Kondisi ini mengecoh otak untuk memproduksi hormon melatonin atau hormon yang bertugas memberi rasa kantuk lebih banyak.
Seolah-olah tubuh Anda mendapat sinyal palsu bahwa hari sudah malam, sehingga rasa kantuk pun menyerang di siang bolong.
Suara hujan bukanlah kebisingan biasa. Dalam dunia audio, rintik hujan dikategorikan sebagai pink noise atau jenis suara dengan frekuensi yang merata dan konsisten.
Baca juga: YCWC 2025: Panggung Anak Gorontalo Taklukkan Dunia AI dan Koding
Berbeda dengan suara klakson atau percakapan yang mengganggu, irama konstan dari hujan justru menurunkan aktivitas otak dan menenangkan sistem saraf.
Otak mengartikan suara ini sebagai sinyal aman, yang secara tidak sadar memicu tubuh untuk masuk ke mode istirahat atau tidur yang lebih nyenyak.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Beautynesia