Ada Gorontalo, Ini 10 Daerah dengan Sekolah dan Guru Paling Sedikit di Indonesia Tahun Ajaran 2025/2026
GORONTALO – Tantangan pemerataan pendidikan di Indonesia semakin terlihat jelas.
Data terbaru dari Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) untuk semester ganjil tahun ajaran 2025/2026 menyoroti jurang pemisah yang lebar dalam ketersediaan fasilitas dan tenaga pendidik.
Provinsi Gorontalo tercatat masuk dalam daftar 10 provinsi dengan jumlah sekolah dan guru paling minim secara nasional.
Baca juga: Provinsi Gorontalo Masuk 10 Daerah dengan Rata-Rata Upah Buruh Terendah di Indonesia Tahun 2025
Ketimpangan ini menempatkan wilayah pemekaran di Papua sebagai daerah dengan fasilitas paling terbatas, namun juga menunjukkan isu tersebut menjangkau wilayah di luar Papua dan Nusa Tenggara.
Gorontalo Berada di Posisi Sembilan
Dalam hal ketersediaan fasilitas fisik, Provinsi Gorontalo berada di peringkat kesembilan sebagai daerah dengan jumlah sekolah paling sedikit.
Total sekolah di Gorontalo (dari PAUD hingga pendidikan menengah) tercatat sebanyak 2.988 unit. Angka ini hanya sedikit di bawah Kepulauan Riau (3.008 sekolah).
Baca juga: Konten Kreator Ka Kuhu Gandeng 8 Kuasa Hukum Usai Dipolisikan Wartawan
Daftar minimnya sekolah ini didominasi oleh wilayah Papua. Papua Selatan berada di posisi teratas dengan hanya 1.228 sekolah.
Diikuti Papua Barat Daya (1.291 sekolah), Papua Barat (1.475 sekolah), dan Papua Tengah (1.498 sekolah).
Kalimantan Utara dan Papua Pegunungan juga mencatat angka di bawah 2.000 sekolah.
Krisis Guru: Gorontalo Masuk Daftar Waspada
Selain minimnya fasilitas, ketersediaan guru menjadi faktor krusial.
Data Kemendikdasmen menunjukkan bahwa Gorontalo juga berada dalam daftar 10 provinsi dengan jumlah guru paling sedikit, dengan total 19.242 guru.
Angka ini menempatkan Gorontalo di bawah Kepulauan Bangka Belitung (19.187 guru) dan jauh di atas Maluku Utara (28.746 guru).
Kondisi paling mencolok terlihat di wilayah pegunungan. Papua Pegunungan memimpin daftar dengan jumlah guru paling sedikit, hanya 8.045 orang.
Diikuti Papua Selatan (8.820 guru) dan Papua Barat Daya (10.368 guru).
Kesenjangan ini menunjukkan bahwa meskipun Papua menjadi wilayah yang paling kritis, daerah lain seperti Gorontalo dan Kepulauan Bangka Belitung juga memerlukan perhatian serius dalam upaya pemerataan tenaga pendidik dan fasilitas, demi menjamin kualitas pendidikan yang memadai bagi generasi muda daerah.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Goodstats