Menyelami pemikiran Kartini dari buku Habis Gelap Terbitlah Terang (Indozone Gorontalo)
GORONTALO — Dunia mengenal Raden Ajeng Kartini bukan melalui pedang atau diplomasi di meja perundingan, melainkan melalui goresan pena yang tajam dan melampaui zamannya.
Mahakarya literasi "Habis Gelap Terbitlah Terang" sebenarnya bukanlah sebuah buku yang sengaja ditulis untuk diterbitkan, melainkan kumpulan surat pribadi yang sarat akan kegelisahan, gugatan, dan visi besar seorang perempuan pingitan.
Lahirnya buku ini bermula dari inisiatif J.H. Abendanon yang membukukan surat-surat Kartini kepada para sahabatnya di Eropa.
Baca juga: 20 Ide Tema Hari Kartini 2026 yang Unik dan Bermakna
Perjalanan literasi pemikiran Kartini mengalami beberapa fase penting:
Buku ini memuat 106 pucuk surat yang ditujukan kepada sahabat-sahabat karibnya, termasuk Estelle H. Zeehandelaar (Stella), pasangan Abendanon, hingga Prof. Anton.
Baca juga: IPM Kabupaten Gorontalo Torehkan Catatan Positif di Angka 71,54
Di balik tembok kabupaten, pikiran Kartini berkelana menembus samudera.
Surat-suratnya bukan sekadar curahan hati, melainkan analisis kritis terhadap tatanan sosial kala itu.
Beberapa poin utama yang menjadi napas perjuangannya meliputi:
Baca juga: 20 Ide Ucapan Hari Kartini 2026 untuk Orang Tersayang dan Media Sosial
Pendidikan sebagai Kunci: Kartini percaya bahwa pendidikan bagi perempuan bukan untuk menyaingi laki-laki, melainkan agar perempuan cakap dalam tugas mulianya sebagai pendidik pertama bagi manusia (ibu).
Kritik Sosial: Ia secara berani menggugat praktik poligami, pernikahan paksa, serta budaya feodal yang dianggap menghambat kemajuan bangsa.
Keadilan Intelektual: Kartini mencatat ketidakadilan di dunia pendidikan masa kolonial, di mana kecerdasan anak pribumi sering kali dipandang sebelah mata oleh penguasa.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Berbagai Sumber