Seorang warga sedang memanggang nasi bulu yang akan disajikan pada lebaran ketupat (Infopublik.id)
GORONTALO – Jika berbicara tentang perayaan Lebaran Ketupat di Provinsi Gorontalo, perhatian kita tidak akan lepas dari kuliner ikonik bernama Nasi Bulu.
Hidangan berbahan dasar ketan yang dimasak di dalam bambu ini bukan sekadar pengganjal perut, melainkan simbol tradisi dan kebersamaan yang telah mengakar kuat di tengah masyarakat.
Nasi Bulu sejatinya memiliki kaitan erat dengan Nasi Jaha, kuliner khas Minahasa yang tersebar luas di wilayah Sulawesi Utara, mulai dari Kepulauan Sangihe, Talaud, hingga Bolaang Mongondow.
Di Gorontalo, penyebutan Nasi Bulu merujuk pada wadah memasaknya, yakni bambu, yang dalam bahasa lokal disebut sebagai bulu.
Menariknya, asal-usul nama Nasi Jaha sendiri memiliki dua versi cerita.
Versi pertama menyebutkan nama tersebut berasal dari "Nasi Jahe" karena jahe merupakan bumbu utama yang memberikan aroma khas.
Baca juga: Perjalanan Panjang Kipas Angin dari Masa ke Masa
Sementara versi lain dalam mitologi Minahasa mengaitkannya dengan kisah orang Wosey dan Waraney.
Di Gorontalo, tradisi pembuatan Nasi Bulu sangat lekat dengan masyarakat Jaton (Jawa Tondano). Kebiasaan ini biasanya memuncak pada hari ketujuh setelah Idul Fitri atau saat Lebaran Ketupat.
Awalnya, tradisi ini dibawa oleh warga yang pulang dari perantauan sebagai ajang silaturahmi sebelum mereka kembali berangkat ke tanah rantau.
Baca juga: Lama Menghilang di Era STY, Elkan Baggott Girang Pulang ke Timnas Indonesia di Era John Herdman
Membuat Nasi Bulu yang nikmat membutuhkan kesabaran dan pemilihan bahan yang tepat.
Aroma harum yang keluar dari bambu yang terbakar adalah kunci utama daya tariknya.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Berbagai Sumber