Diteriaki 'Gubernur Gorontalo' di Musda Golkar, Idah Syahidah: Itu Doa, Tapi Saya Fokus Kerja Dulu
GORONTALO – Atmosfer Musda XI Partai Golkar Kabupaten Gorontalo yang digelar kemarin berlangsung hangat dan penuh semangat.
Di tengah agenda organisasi tersebut, terdengar aspirasi spontan dari para kader, yang meneriakkan sebutan "Gubernur Gorontalo" saat Ketua DPD I Partai Golkar Provinsi Gorontalo, Idah Syahidah memberikan sambutannya.
Baca juga: Bupati Gorontalo Banyak Belajar Politik dari Golkar
Teriakan tersebut seolah menjadi sinyal kuat dukungan akar rumput partai berlambang pohon beringin itu agar Idah maju sebagai orang nomor satu di Gorontalo pada kontestasi politik mendatang.
Menanggapi antusiasme dan teriakan tersebut, Idah Syahidah yang saat ini menjabat sebagai Wakil Gubernur Gorontalo memberikan respons yang tenang dan bijak.
Ia tidak menampik aspirasi tersebut, tapi juga tidak ingin terburu-buru membicarakan pilkada yang menurutnya masih jauh.
Baca juga: Kata-Kata Iskandar Mangopa Usai Terpilih Ketua DPD II Golkar Kabupaten Gorontalo 2025-2030
"Masih lama itu. Itu hak mereka [meneriakkan dukungan], berarti doa untuk saya," ujar Idah saat dikonfirmasi.
Fokus Kerja Dulu
Alih-alih terbuai dengan dukungan politik, Idah menegaskan bahwa prioritas utamanya saat ini adalah menyelesaikan amanah yang sedang diemban.
Sebagai pendamping Gubernur Gorontalo, Gusnar Ismail, ia merasa memiliki tanggung jawab moral dan profesional untuk memastikan roda pemerintahan berjalan maksimal hingga akhir masa jabatan.
Ia menjelaskan bahwa aktivitasnya turun ke lapangan selama ini murni untuk memastikan program pemerintah sampai ke masyarakat, bukan sebagai manuver politik dini.
"Saya bekerja dulu, membantu tugas gubernur," jelasnya.
Menutup tanggapannya, Idah kembali menekankan agar semua pihak bersabar dan tetap bekerja untuk daerah.
"Intinya masih lama itu, saya masih fokus untuk pembangunan Gorontalo," pungkas Idah.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Wawancara