GORONTALO — Provinsi Gorontalo menyimpan pesona warisan peradaban masa lalu dalam bentuk cagar budaya. Situs bersejarah ini menjadi saksi bisu perjalanan panjang daerah tersebut.
Mengunjungi monumen historis ini ibarat memutar kembali waktu. Anda akan mendapat sudut pandang baru tentang sejarah lokal.
Wisata napak tilas ini wajib masuk dalam daftar kunjungan Anda.
Baca juga: Bupati Gorontalo: PPPK Paruh Waktu Tidak akan Dirumahkan
Daftar Situs Cagar Budaya Paling Bersejarah di Gorontalo
1. Benteng Otanaha
Benteng Otanaha berdiri megah menghadap perairan Danau Limboto. Situs ini terletak di Kelurahan Dembe I, Kecamatan Kota Barat.
Kompleks ini juga mencakup keberadaan Benteng Otahiya dan Ulupahu. Catatan sejarah menyebutkan bangunan ini mulai didirikan pada tahun 1522.
Wisatawan harus menaiki 351 anak tangga untuk mencapai puncaknya. Rasa lelah akan terbayar lunas oleh indahnya pemandangan dari atas bukit.
Baca juga: Pemkab Gorontalo Buka Peluang Ekonomi Baru Lewat Kepastian Hukum Agraria
2. Benteng Oranye
Benteng Oranye terletak di kawasan Bukit Arang, Kecamatan Kwandang. Bangsa Portugis membangun benteng pertahanan ini pada tahun 1630.
Tujuannya adalah menghalau serangan bajak laut dari wilayah Filipina. Proses pembangunannya mengandalkan tenaga rakyat secara gotong royong.
Kolonial Belanda kemudian mengambil alih tempat ini pada abad ke-18. Pengunjung bisa menapaki 178 anak tangga menuju sisa bangunan tua ini.
Baca juga: Kabupaten Gorontalo Bone Bolango Jadi Percontohan RBI di Gorontalo
3. Benteng Kota Mas
Benteng Kota Mas juga berada di kawasan pesisir Kwandang. Situs ini dulunya berfungsi mengamankan rute maritim dan lumbung emas.
Bangsa Spanyol atau Portugis diperkirakan menjadi inisiator bangunan ini. Kondisi bangunan benteng ini memang sudah tidak utuh lagi.
Namun, sisa dinding dari batu karang tetap memancarkan nilai sejarah. Lokasinya bisa dicapai dalam dua jam perjalanan dari pusat Kabupaten Gorontalo.
4. Masjid Hunto Sultan Amay
Masjid Hunto Sultan Amay adalah pusat ibadah Islam tertua di Gorontalo. Bangunan suci ini didirikan pada tahun 1495 di wilayah Desa Biawu.
Masjid ini awalnya dibangun sebagai mahar pernikahan Raja Amay. Arsitekturnya memadukan corak lokal, Melayu, dan Timur Tengah.
Terdapat sumur tua dengan perekat putih telur burung maleo di sini. Pengunjung juga bisa berziarah langsung ke makam Sultan Amay.
5. Kantor Pelni Gorontalo
Kantor Pelni Gorontalo berlokasi di Jalan 23 Januari, Kelurahan Biawu. Gedung tua ini menonjolkan gaya arsitektur khas kolonial Belanda.
Tempat ini memiliki kaitan erat dengan memori kolektif masyarakat lokal. Gedung ini merekam jejak perjuangan menjelang masa proklamasi kemerdekaan.
Nilai historisnya masih terasa sangat kuat hingga saat ini.
6. Kantor Pos Provinsi Gorontalo
Kantor Pos ini terletak di Jalan Ahmad Yani, Kelurahan Limba U1. Bangunan ini menjadi episentrum peristiwa patriotik masyarakat Gorontalo.
Pahlawan Nani Wartabone menggemakan proklamasi kemerdekaan di tempat ini. Peristiwa bersejarah tersebut terjadi secara heroik pada 23 Januari 1942.
Momen ini bahkan mendahului proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia. Gedung ini menjadi saksi bisu keberanian dan patriotisme rakyat Gorontalo.
6. Museum Pendaratan Pesawat Amfibi Bung Karno
Museum ini terletak persis di tepi Danau Limboto, Desa Iluta. Bangunan bergaya Hindia Belanda ini awalnya didirikan pada tahun 1936.
Tempat ini menyimpan memori kedatangan Presiden Soekarno ke Gorontalo. Terdapat banyak dokumentasi dan barang antik di dalam ruangan bersejarah ini.
Lokasi di tepi danau memberikan pengalaman wisata yang sangat menenangkan.
Bagaimana Kita Melestarikannya?
Merawat cagar budaya adalah tugas kolektif seluruh lapisan masyarakat. Langkah termudah adalah menjadikan lokasi tersebut sebagai destinasi wisata unggulan.
Kunjungan wisata yang ramai akan memutar roda ekonomi di sekitar lokasi. Dana tersebut bisa memberikan dampak langsung pada perawatan fisik bangunan.
Pengunjung juga harus menghindari segala bentuk tindakan vandalisme. Promosi melalui media sosial akan menjaga gaung sejarahnya agar tetap hidup.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Berbagai Sumber